Gadai Tanpa Biaya

Bahwasanya klien Gerai Dinar sudah bisa bener-bener meminjam tanpa beban biaya apapun dengan jaminan Dinarnya, itu bukan barang baru. Tetapi mungkinkah para penyedia produk gadai komersial seperti PT. Pegadaian (Persero) dan bank-bank syariah penyedia gadai di negeri ini – menggratiskan layanan gadainya sama sekali ? Sangat mungkin bila mereka bener-bener menggunakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai Uswatun Hasanah-nya !

Kalau mereka menggratiskan layanannya, lha terus income-nya dari mana ? lha wong mereka institusi komersial yang oleh pemegang sahamnya dari waktu ke waktu dituntut untuk memberikan hasil yang sebaik mungkin.

Justru disinilah peluangnya bagi industri gadai syariah  – yang tidak mengikuti cara-cara gadai ribawi, tetapi mengikuti cara gadai yang memang ada contohnya. Peluang terbaik umat ini justru ketika kita mengikuti tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam , bukan ketika kita mengikuti umat lain memasuki lubang biawak. “ 

Sedikit-demi sedikit kalian akan mengikuti sunnah-sunnah umat terdahulu. Sampai-sampai, andaikata mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian juga ikut mereka memasukinya.” Ada yang bertanya , “ Wahai Rasululah, apakah mereka yang dimaksud adalah Nasrani dan Yahudi ?” Beliau menjawab, “Lalu siapa lagi ?” HR. Bukhari Muslim

Peluang terbaik tersebut ada pada hadits sahih berikut : “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pernah membeli makanan dengan berutang dari seorang Yahudi, dan Nabi menggadaikan sebuah baju besi kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits pendek ini menyimpan suatu makna yang luar biasa bila kita pahami dan terapkan. Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membeli makanan dengan menggadaikan baju besi ke si penjual makanan tersebut.

Nabi yang terjaga dari dosa, pasti ketika menggadaikan baju besinya tersebut beliau tidak membayar riba ke si penerima gadai. Lha kok mau si penerima gadai – tanpa menerima imbalan atas gadainya ? karena income dia bukan dari gadai tetapi dari menjual makanan. Sangat bisa jadi income jual beli makanan ini lebih tinggi dari income gadai, dan itu halal – makanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melakukan cara ini !

Mengapa cara yang sama tidak kita lakukan dijaman ini ? potensi income dan pasar yang besar justru ketika kita mengikuti cara nabi tersebut di atas, bukan dengan cara mencari-cari dasar untuk bisa mengenakan biaya tinggi – yang setara dengan pendapatan pinjaman ribawi ? Inilah tantangan sekaligus peluang besar Ekonomi Syariah 2.0 untuk produk gadai, yaitu bagaimana bank-bank atau pegadaian syariah bisa menggratiskan layanan gadai untuk nasabahnya – tetapi pada saat yang bersamaan mereka memiliki peluang untuk mendapatkan income yang halal dari jual beli kebutuhan nasabahnya.

Bisa jadi langkah seperti ini tidak sesuai dengan system per-bank-an atau pegadaian yang berlaku di industri perbankan dan pegadaian komersial konvensional selama ini.  Tetapi justru dengan itulah industri perbankan dan pegadaian syariah bisa keluar dari lubang biawak, dan keluar sebagai pemenang di negeri yang mayoritas muslim ini !

Bayangkan bila hal ini dilakukan,  masyarakat tiba-tiba memiliki aset-aset yang setara cash – berupa emas, kendaraan dlsb – yang setiap saat bisa dijadikan cash dengan menggadaikannya – tanpa kawatir kena beban biaya apapun.

Sementara bank-bank  dan pegadaian syariah tiba-tiba mempunyai profesi baru – dan otomatis juga sumber-sumber pendapatan baru yang sangat menarik – yaitu menjadi pedagang nyata untuk memenuhi kebutuhan para nasabahnya.

Riba hanya bisa dilawan dengan dua hal yaitu dengan jual-beli dan dengan sedekah (QS 275-276), maka perbankan dan pegadaian memperoleh pendapatan yang halal dari jual belinya – yang tidak kalah menarik dari pendapatan-pendapatan sebelumnya, dan mereka masih bisa pula bersedekah – yaitu pinjaman yang baik (yang tidak memberatkan si peminjam) itu bernilai sedekah !

Di dalam lubang biawak itu gelap – maka industri keuangan syariah yang mengikuti cara-cara yang konvensional mereka sulit tumbuh – mereka kalah dengan yang konvesional, yang kebanyakan adalah induknya. Setelah ada di negeri ini sekitar 20 tahun, pasar keuangan syariah rata-rata tidak lebih dari 5 % saja.

Ya itu tadi, dalam kegelapan orang tidak bisa melihat, tidak bisa melangkah kecuali dituntun oleh yang lain. Lha kalau yang menuntun (berupa arahan pemegang saham, komisaris dlsb) itu adalah yang ribawi, seperti para pemegang saham/induk industri keuangan syariah yang rata-rata memang ribawi menurut fatwa MUI no 1 tahun 2004 – maka bisa dibayangkan ke arah mana mereka dibawa.

Kinilah saatnya mereka keluar dari lubang biawak, tidak lagi mengikuti ‘umat-umat’ terdahulu. Keluar ke tempat yang terbuka, dimana tersedia jalan yang terang benderang ke segala penjuru. Mereka bisa tumbuh ke segala arah – di  blue ocean – yang belum tercemari dengan merah darahnya persaingan industri keuangan konvensioanl yang memang sudah berdarah-darah. (Muhaimin Iqbal) – See more at: http://dinaremasku.com/#sthash.oytmLBek.dpuf

http://dinaremasku.com/gadai-tanpa-biaya/

Situs Dinar Emas

dinaremaskuMungkin teman-teman narablog menyadari keadaaan bahwa dinoyudha jarang beredar di dunia narablog sudah hampir sebulan ini. Tidak mengupdate kabar blogger lainnya, memberikan komentar, ataupun rutin menulis.

Belakangan ini saya tertarik dengan Dinar Emas, koin dinar emas yang menyimpan nilai yang adil sepanjang zaman. Ketertarikan saya ini menjadikan saya ingin mengetahui lebih banyak tentang dinar emas dan dirham perak. Hingga akhirnya saya juga tertarik untuk berjualan dinar emas dan dirham perak ini.

Saya pun membuat situs khusus untuk berjualan dinar emas ini, yaitu http://dinaremasku.com, sebuah situs yang dikhususkan untuk pengenalan dinar emas dan juga untuk transaksi jual beli dinar emas. Continue reading

Mengapa Koin Dinar Emas?

Beberapa hari yang lalu sempat berdiskusi dengan teman tentang jenis-jenis investasi emas. Setelah beliau menceritakan pendapatnya tentang invetasi emas ini, beliau memutuskan untuk lebih cenderung menyukai investasi emas dalam bentuk emas lantakan. Dengan alasan lebih mudah dijual dan tidak terkena pajak.

Masing-masing jenis memang memiliki kelebihan dan kelemahan, seperti yang sudah diuraikan di sini. Continue reading

Fungsi Dinar Emas

Menurut Muhaimin Iqbal dalam artikelnya, paling tidak fungsi dinar ada 3, yaitu:

  1. sebagi dua dari tiga fungsi uang yaitu sebagai store of value (proteksi nilai) dan unit of account (timbangan muamalah yang adil);
  2. sebagai alat tukar (medium of exchange);
  3. sebagai alat investasi.

Dari ketiga fungsi ini, paling tidak kita bisa mengetahui apa sebenarnya motivasi atau niat awal kita untuk memiliki dinar.

Mungkin kebanyakan dari para pemegang dinar yang memiliki dinar untuk fungsi ketiga, yaitu alat investasi. Untuk hal ini, sebenarnya Dinar sangat baik untuk perencanaan keuangan/investasi jangka panjang yang penggunaannya beberapa tahun ke depan. Misalnya untuk rencana naik haji, biaya sekolah anak, dana pensiun, dana perbaikan rumah, dll. Dinar kurang cocok untuk alasan investasi jangka pendek – misalnya kurang dari 6 bulan – karena fluktuasi harganya sulit diprediksi, peluang untung dan ruginya kurang lebih berimbang.

Muhaimin Iqbal dan Dinar

muhaimin-iqbalTidak banyak orang yang bisa secara totalitas keluar dari zona kenyamanan untuk mengembangkan suatu produk yang diyakini bisa menjadi solusi mengatasi krisis dan bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Apalagi disaat tengah menduduki puncak karir di suatu perusahaan. Namun kesungguhan untuk memantapkan diri menjadi keyakinan utama dalam ber’hijrah’ dari suatu posisi ke tempat yang diyakini memiliki makna lebih baik.

Muhaimin Iqbal – atau akrab dipanggil Iqbal, demikianlah beliau disapa. Mengundurkan diri dari jabatan Presiden Direktur Asuransi Bintang Tbk, pada bulan Mei 2008 untuk kemudian selanjutnya mengembangkan gerai dinar yang telah dirintis sejak desember 2007. Dikenal sebagai salah satu tokoh perasuransian nasional dan sudah mengabdikan diri di dunia asuransi sejak tahun 1987. Mengawali karir sebagai underwriter, kemudian menjadi Direktur Teknik & Pemasaran antara tahun 1996-2000, menjadi Direktur  Asuransi Tugu Pratama, sampai akhirnya diberi kepercayaan sejak Juli 2006 oleh RUPS untuk memimpin Asuransi Bintang,Tbk. Tak lama kemudian diangkat menjadi ketua umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI). Continue reading

Beli Dinar Lagi

Http://dinaremasku.com

 

Alhamdulillah hari ini beli dinar lagi. Untuk kali ini beli 5 dinar, karena untuk titipan kelompok arisan dinar temen-temen juga.

Ada yang beda dalam pembelian dinar kali ini. Yang biasanya saya beli di dekat kampus Bintaro (dari wakala nusantara), secara langsung datang ke rumah wakif-nya, untuk kali ini saya membelinya dari gerai dinar, dengan minta dikirimkan ke rumah.

Memang dari harga tukar rupiah ke dinar di gerai dinar lebih mahal sedikit (sekitar 2 ribuan rupiah) daripada wakala nusantara, tapi pengen tahu aja, bentuk dinar milik gerai dinar itu seperti apa. Kan selama ini lihatnya hanya yang punya wakala nusantara. Continue reading

Arisan Dinar

arisanArisan Dinar menjadi salah satu kegiatan menarik di lingkungan temen-temen D-IV STAN. Paling tidak sampai saat ini, tidak kurang dari 5 kelompok arisan dinar sudah terbentuk, yang masing-masing beranggotakan 4 orang mahasiswa. Awalnya ide ini bermula dari salah seorang teman Pajak yang memang berjiwa pengusaha (Mas Adhe), yang menawarkan adanya arisan dinar, dengan tujuan membantu teman-teman untuk memiliki dinar. Kami pun meresponnya dengan antusias, dan alhasil terbentuklah kelompok-kelompok arisan dinar, yang sekarang sudah berlangsung satu putaran (4 bulan).

Arisan Dinar ini dibangun dengan konsep arisan pada umumnya, hanya kelebihannya adalah, kami tidak mendasarkannya pada uang kertas, tapi lebih pada koin dinar emas itu sendiri. Harga dinar kami dapatkan dari internet, baik dari situs geraidinar maupun wakalanusantara. Kemudian rate harga dinar pada saat membeli dinar, akan kami bagi 4 untuk kemudian masing-masing orang membayarkannya. Tidak terlalu ribet untuk mencari siapa yang giliran mendapatkan dinar tersebut, bisa melalui kocokan kertas, atau gambreng saja sudah cukup 🙂

Pertanyaan  yang mungkin muncul adalah, jika tidak didasarkan pada uang kertas, maka setiap bulan masing-masing anggota akan membayarkan uang arisan yang berbeda? Tentu saja. Terkadang kami membayar Rp 350.000,-, terkadang pula hanya Rp 320.000,-.

Adilkah?
Continue reading