Proses Daftar Haji Biasa

Bismillah.. Alhamdulillah hari ini saya dan istri mendaftar pergi haji di Kandepag (Kantor Kementerian Agama) Kota Semarang (Jl. Untung Suropati, Manyaran – Semarang, http://www.jateng.kemenag.go.id). Hari ini dikhususkan untuk mendaftar pergi haji, jauh-jauh dari Jakarta ke Semarang mengambil kesempatan hari kecepit ini. Sebelumnya sudah tanya-tanya dan cari-cari informasi bagaimana cara mendaftar pergi haji. Dan cerita ini sebagai catatan saja bagi kami dan mungkin bermanfaat bagi pembaca.

Langkah pertama adalah mencetak buku tabungan haji di bank, kebetulan kami pakai tabungan haji Arafah di Bank Muamalat. Cetak buku tabungan ini untuk menunjukkan bahwa tabungan kita sudah cukup Rp25juta sebagai setoran awal untuk mendaftar pergi haji. Bank yang dipersyaratkan oleh Kemenag adalah bank syariah, tabungan haji di bank konvensional tidak diterima, harus dipindah dulu ke bank syariah.

Berbekal buku tabungan yang sudah tercetak minimal Rp25juta dan KTP asli, kami datang ke Kandepag Kota Semarang di Manyaran. Saat itu jam menunjukkan pukul 10 wib, sempat terucap ke istri kenapa suasananya sepi sekali. Kami langsung menuju ruang penyelenggaraan haji, langsung disambut oleh petugas kandepag. Ruangannya sepi, rupanya saat itu belum ada pendaftar lain. Alhamdulillah kami tidak perlu mengantri. Masuk ruang pendaftaran, kami langsung disodori formulir SPPH (Surat Pendaftaran Pergi Haji) untuk kami isi secara manual menggunakan pulpen. Informasi yang dibutuhkan pada formulir 1 lembar itu hanya informasi standar, tidak ada informasi yang ribet atau membuat dahi berkerut.

Setelah kami mengisi formulir SPPH, kami dipersilakan masuk ke ruang foto dan sidik jari. Kami diminta untuk duduk di tempat yang sudah ditentukan untuk diambil foto. Kemudian juga diminta sidik jari jempol kiri. Sembari formulir yang tadi diisi manual itu diinput oleh petugas ke sistem di komputer, kami menunggu di ruang tunggu. Saat menunggu ini, kami lihat di ruang pendaftaran semakin banyak pasangan yang datang untuk mendaftar pergi haji juga, mungkin ada 10 pasang. Tidak lama, kemudian kami dipanggil dan diminta untuk mengecek kembali isian formulir SPPH tersebut, jika sudah benar, kemudian diminta untuk tanda tangan.

Sampai di sini, selesai sudah proses di kandepag tahap pertama. Terbit SPPH.

Kemudian berbekal SPPH dan pas foto 3×4 sebanyak 5 lembar dan buku tabungan, kami pergi ke Bank Muamalat untuk menyerahkan berkas tersebut dan meminta nomor porsi. Pihak bank memproses transfer Rp25juta ke rekening Menteri Agama sebagai setoran awal pendaftaran pergi haji. Kemudian kami diberikan tanda bukti setoran awal yang di dalamnya juga tercantum informasi nomor porsi, nomor SPPH, dan data pribadi kami. Dokumen ini terdiri dari 4 rangkap (1 rangkap bermaterai 6ribu untuk kami, dan 3 rangkap untuk Kandepag).

Setelah mendapatkan tanda bukti setoran awal dari bank ini, kami kembali lagi ke kandepag membawa beberapa dokumen kelengkapan, yaitu sebagai berikut:
1. SPPH asli,
2. Tanda bukti setoran awal (3 rangkap) yang tadi diberikan oleh pihak bank,
3. fotokopi KTP (10 lembar),
4. fotokopi buku nikah (1 lembar) | buku nikah ini bagi yang sudah nikah, kalo yang masih lajang pakai akta kelahiran atau paspor,
5. fotokopi Kartu keluarga (1 lembar),
6. foto berwarna latar belakang putih (wajah 70-80%), 3×4 sebanyak 10 lembar dan 4×6 sebanyak 2 lembar.

Setelah menyerahkan dokumen-dokumen ini, selesai sudah proses pendaftaran haji. Selanjutnya adalah menunggu saat keberangkatan ke tanah suci menjelang. Dua atau tiga tahun sebelum waktu yang direncanakan, silakan sering-sering cari informasi, apakah tahun keberangkatan kita semakin pendek kah..Siapa tahu bertambah pendek karena ada calon jamaah haji yang batal berangkat. Kami diprediksikan berangkat tahun 2030 (15 tahun sejak mendaftar). Semoga bisa lebih cepat dari itu.. aamiin..

Demikian catatan ini dibuat.. untuk dokumentasi bagi kami, dan siapa tahu bermanfaat untuk pembaca.

Salam
Dino
www.dinaremasku.com

Gadai Tanpa Biaya

Bahwasanya klien Gerai Dinar sudah bisa bener-bener meminjam tanpa beban biaya apapun dengan jaminan Dinarnya, itu bukan barang baru. Tetapi mungkinkah para penyedia produk gadai komersial seperti PT. Pegadaian (Persero) dan bank-bank syariah penyedia gadai di negeri ini – menggratiskan layanan gadainya sama sekali ? Sangat mungkin bila mereka bener-bener menggunakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai Uswatun Hasanah-nya !

Kalau mereka menggratiskan layanannya, lha terus income-nya dari mana ? lha wong mereka institusi komersial yang oleh pemegang sahamnya dari waktu ke waktu dituntut untuk memberikan hasil yang sebaik mungkin.

Justru disinilah peluangnya bagi industri gadai syariah  – yang tidak mengikuti cara-cara gadai ribawi, tetapi mengikuti cara gadai yang memang ada contohnya. Peluang terbaik umat ini justru ketika kita mengikuti tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam , bukan ketika kita mengikuti umat lain memasuki lubang biawak. “ 

Sedikit-demi sedikit kalian akan mengikuti sunnah-sunnah umat terdahulu. Sampai-sampai, andaikata mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian juga ikut mereka memasukinya.” Ada yang bertanya , “ Wahai Rasululah, apakah mereka yang dimaksud adalah Nasrani dan Yahudi ?” Beliau menjawab, “Lalu siapa lagi ?” HR. Bukhari Muslim

Peluang terbaik tersebut ada pada hadits sahih berikut : “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pernah membeli makanan dengan berutang dari seorang Yahudi, dan Nabi menggadaikan sebuah baju besi kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits pendek ini menyimpan suatu makna yang luar biasa bila kita pahami dan terapkan. Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membeli makanan dengan menggadaikan baju besi ke si penjual makanan tersebut.

Nabi yang terjaga dari dosa, pasti ketika menggadaikan baju besinya tersebut beliau tidak membayar riba ke si penerima gadai. Lha kok mau si penerima gadai – tanpa menerima imbalan atas gadainya ? karena income dia bukan dari gadai tetapi dari menjual makanan. Sangat bisa jadi income jual beli makanan ini lebih tinggi dari income gadai, dan itu halal – makanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melakukan cara ini !

Mengapa cara yang sama tidak kita lakukan dijaman ini ? potensi income dan pasar yang besar justru ketika kita mengikuti cara nabi tersebut di atas, bukan dengan cara mencari-cari dasar untuk bisa mengenakan biaya tinggi – yang setara dengan pendapatan pinjaman ribawi ? Inilah tantangan sekaligus peluang besar Ekonomi Syariah 2.0 untuk produk gadai, yaitu bagaimana bank-bank atau pegadaian syariah bisa menggratiskan layanan gadai untuk nasabahnya – tetapi pada saat yang bersamaan mereka memiliki peluang untuk mendapatkan income yang halal dari jual beli kebutuhan nasabahnya.

Bisa jadi langkah seperti ini tidak sesuai dengan system per-bank-an atau pegadaian yang berlaku di industri perbankan dan pegadaian komersial konvensional selama ini.  Tetapi justru dengan itulah industri perbankan dan pegadaian syariah bisa keluar dari lubang biawak, dan keluar sebagai pemenang di negeri yang mayoritas muslim ini !

Bayangkan bila hal ini dilakukan,  masyarakat tiba-tiba memiliki aset-aset yang setara cash – berupa emas, kendaraan dlsb – yang setiap saat bisa dijadikan cash dengan menggadaikannya – tanpa kawatir kena beban biaya apapun.

Sementara bank-bank  dan pegadaian syariah tiba-tiba mempunyai profesi baru – dan otomatis juga sumber-sumber pendapatan baru yang sangat menarik – yaitu menjadi pedagang nyata untuk memenuhi kebutuhan para nasabahnya.

Riba hanya bisa dilawan dengan dua hal yaitu dengan jual-beli dan dengan sedekah (QS 275-276), maka perbankan dan pegadaian memperoleh pendapatan yang halal dari jual belinya – yang tidak kalah menarik dari pendapatan-pendapatan sebelumnya, dan mereka masih bisa pula bersedekah – yaitu pinjaman yang baik (yang tidak memberatkan si peminjam) itu bernilai sedekah !

Di dalam lubang biawak itu gelap – maka industri keuangan syariah yang mengikuti cara-cara yang konvensional mereka sulit tumbuh – mereka kalah dengan yang konvesional, yang kebanyakan adalah induknya. Setelah ada di negeri ini sekitar 20 tahun, pasar keuangan syariah rata-rata tidak lebih dari 5 % saja.

Ya itu tadi, dalam kegelapan orang tidak bisa melihat, tidak bisa melangkah kecuali dituntun oleh yang lain. Lha kalau yang menuntun (berupa arahan pemegang saham, komisaris dlsb) itu adalah yang ribawi, seperti para pemegang saham/induk industri keuangan syariah yang rata-rata memang ribawi menurut fatwa MUI no 1 tahun 2004 – maka bisa dibayangkan ke arah mana mereka dibawa.

Kinilah saatnya mereka keluar dari lubang biawak, tidak lagi mengikuti ‘umat-umat’ terdahulu. Keluar ke tempat yang terbuka, dimana tersedia jalan yang terang benderang ke segala penjuru. Mereka bisa tumbuh ke segala arah – di  blue ocean – yang belum tercemari dengan merah darahnya persaingan industri keuangan konvensioanl yang memang sudah berdarah-darah. (Muhaimin Iqbal) – See more at: http://dinaremasku.com/#sthash.oytmLBek.dpuf

http://dinaremasku.com/gadai-tanpa-biaya/

Perjalanan ke Danau Toba

Alhamdulillah, Sabtu 7 Juli 2012 kemarin, saya berkesempatan mengunjungi Danau Toba yang terletak di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Perjalanan darat menggunakan mobil pribadi ditempuh selama kurang lebih 5 jam dari Kota Medan. Danau Toba ini adalah danau vulkanik yang sangat luas, udah kayak laut gitu deh. Kami masuk ke area wisata Danau Toba, dan parkir di depan rumah pengasingan Bung Karno jaman dulu kala. Ni dia rumahnya..bagus yah.

Image

Kami menyeberangi Danau Toba menuju Pulau Samosir menggunakan speed boat yang muat 8 orang. Oleh sopir speed boat-nya (nahkoda ya?), kami dibawa ke area batu gantung, yang menurut legenda batu itu berbentuk seorang putri. Ni dia fotonya, kurang jelas sih, mana putrinya.. 😀

Image

Setelah mencoba menebak-nebak yang mana putrinya, kami dibawa menyeberangi Danau Toba dengan waktu tempuh kurang lebih 20 menit. Sampai di Desa Tomok, kami ke Tuktuk (pusat daya tarik wisata Pulau Samosir), kami jalan-jalan melihat patung Sigale-gale, kebetulan waktu itu pas ada yang nyawer, jadi si patung bisa goyang-goyang tangannya. Ni dia lagi joget ama tamu yang datang. Eh, rumah sigale-gale secara kebetulan nomor 4, dia ikut Pilkada DKI ngga ya.. 😀

Image

Saya juga sempet foto..ni dia foto narsisnya..

Image

Setelah dari Sigale-gale kami ke pemakaman raja Sidabutar, di situ ada tour guide yang menjelaskan sejarahnya. manggut-manggut aja deh.. Fotonya di kamera nih, belum dipindahin..

Setelah itu kami ke Museum Batak. Ada yang lucu nih, pas masuk itu ada suara tanpa wujud, saya tau sih, itu anak kecil yang ngumpet terus disuruh nakut-nakutin pengunjung. Pas saya coba menyentuh salah satu benda di museum itu, dia teriak, “jangaaannn disentuuuhhhh..”..terus dia bilang juga “jangan nantang saya…” wedew… Nah lucunya, pas saya mau keluar museum, dia bilang gini, “kotaknya diiisiii yaaa..” saya langsung noleh kanan, dan ada kotak “Contribution Box”.. wkwkwkwk…kocak abis deh..

Habis dari sini kami beli-beli baju buat oleh-oleh yang di rumah.. Pinter-pinter nawar deh, saya aja nawar sampe 50% dikasih…hehehe…

Ngga lama sih di Tomok ini, kami langsung balik menyeberangi Danau Toba, karena jam sudah menunjukkan pukul 16:00, ombak danau saat itu besar sekali, membuat speed boat-nya jadi wahana arung jeram kayak di Dufan. Lumayan sport jantung juga..

Udah deh gitu aja ceritanya :p

Eh lupa.. foto Danau Toba nya malah kelupaan.. ni dia..

Sepeda untuk Qisty

Membaca postingan sepedanya Mbak Afifah, jadi pengen posting juga sepedanya dek Qisty. Meski sepeda ini udah dibeli beberapa bulan yang lalu, baru sekarang dipamerin.. 🙂

Ini foto dek Qisty dengan sepedanya… seneng banget yah..

Image

Ini Dek Qisty main sama Mbak Afifah, yang mencetin lagunya Mbak Afifah, dek Qisty belum bisa mencet sendiri.. yang akur ya naak…

Image

Jalan-jalan pagi sama Mbak Afifah, sama Abi..

Pekerjaan Tetap vs Tetap Bekerja

Akhir-akhir ini sering muncul dalam benak saya untuk berpindah pekerjaan dari PNS menjadi wirausaha. Di tengah munculnya pikiran-pikiran tersebut, saya membaca artikel dari Muhaimin Iqbal, pemilik Geraidinar (tempat di mana http://dinaremasku.com menjadi agennya). Berikut kopian artikelnya.

Di masjid komplek tempat saya tinggal, jamaah shalat dhuhurnya kini hampir sama banyaknya dengan shalat fardhu lainnya. Kok bisa ?, bukankah penghuninya pada ke kantor di siang hari ? sebagiannya memang demikian, tetapi cukup banyak yang mulai bekerja di rumah.  Yang pada bekerja di rumah ini sebagian memiliki pegawai beberapa orang, maka mereka inilah yang ikut meramaikan masjid di siang hari selain penghuni komplek sendiri. Awalnya orang yang melihat kami siang-siang pada sarungan ke masjid, sering bertanya ‘apakah Anda tidak bekerja ?’, maka sambil berseloroh kami punya jawaban yang khas untuk ini : ‘kami ini adalah orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap, tetapi kami tetap bekerja !’.

Inilah paradigma baru yang rupanya menular di komplek kami tinggal. Belasan tahun lalu ketika saya mulai masuk komplek ini, saat itu hampir semua orang bekerja di kantor sehingga masjid sepi ketika siang hari. Kini hampir berimbang antara yang bekerja di kantor dan yang di rumah. Sebagian karena usia pensiun, sebagian karena memutuskan untuk berwirausaha sebelum usia pensiun tiba, sebagian lain memang dengan bantuan teknologi kini bisa bekerja dari rumah.

Ada budaya baru yang menarik yaitu orang-orang sarungan atau pakai baju gamis ke masjid siang hari – padahal mereka orang-orang yang sibuk. Kok bisa ?, kapan mereka berganti sarung atu gamisnya ? mereka tidak perlu berganti !, karena ketika mereka bekerja di rumah, tidak lagi diperlukan pakaian formal – sarungan atau bergamis-pun jadi. Continue reading