Pekerjaan Tetap vs Tetap Bekerja

Akhir-akhir ini sering muncul dalam benak saya untuk berpindah pekerjaan dari PNS menjadi wirausaha. Di tengah munculnya pikiran-pikiran tersebut, saya membaca artikel dari Muhaimin Iqbal, pemilik Geraidinar (tempat di mana http://dinaremasku.com menjadi agennya). Berikut kopian artikelnya.

Di masjid komplek tempat saya tinggal, jamaah shalat dhuhurnya kini hampir sama banyaknya dengan shalat fardhu lainnya. Kok bisa ?, bukankah penghuninya pada ke kantor di siang hari ? sebagiannya memang demikian, tetapi cukup banyak yang mulai bekerja di rumah.  Yang pada bekerja di rumah ini sebagian memiliki pegawai beberapa orang, maka mereka inilah yang ikut meramaikan masjid di siang hari selain penghuni komplek sendiri. Awalnya orang yang melihat kami siang-siang pada sarungan ke masjid, sering bertanya ‘apakah Anda tidak bekerja ?’, maka sambil berseloroh kami punya jawaban yang khas untuk ini : ‘kami ini adalah orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap, tetapi kami tetap bekerja !’.

Inilah paradigma baru yang rupanya menular di komplek kami tinggal. Belasan tahun lalu ketika saya mulai masuk komplek ini, saat itu hampir semua orang bekerja di kantor sehingga masjid sepi ketika siang hari. Kini hampir berimbang antara yang bekerja di kantor dan yang di rumah. Sebagian karena usia pensiun, sebagian karena memutuskan untuk berwirausaha sebelum usia pensiun tiba, sebagian lain memang dengan bantuan teknologi kini bisa bekerja dari rumah.

Ada budaya baru yang menarik yaitu orang-orang sarungan atau pakai baju gamis ke masjid siang hari – padahal mereka orang-orang yang sibuk. Kok bisa ?, kapan mereka berganti sarung atu gamisnya ? mereka tidak perlu berganti !, karena ketika mereka bekerja di rumah, tidak lagi diperlukan pakaian formal – sarungan atau bergamis-pun jadi.

Yang ikut saya rasakan adalah bahwa ketika kita tidak lagi terkendala waktu (bekerja harus pada waktu-waktu tertentu), tidak terkendala ruang (bekerja harus berkantor), tidak terkendala formalitas (bekerja harus pakai pakaian resmi, berdasi atau bahkan ber jas) maupun kendala-kendala lainnya,  maka pengaruhnya adalah pada kreativitas dan kebebasan kita untuk berpikir.

Saya misalnya, tidak kebayang dalam profesi saya yang lama ketika bekerja harus pada jam kerja pergi ke kantor di pusat kota dengan berdasi dan berjas – tetapi pada saat yang bersamaan juga mengurusi peternakan kambing di lapangan, atau berganti sarung untuk shalat dhuhur di masjid. Jangankan shalat khusu’ di masjid, shalat tepat waktu saja tidak selalu mudah bagi orang-orang kantoran.

Belenggu ruang dan waktu kerja, belenggu pakaian dan formalitas lainnya terkadang ikut membelenggu kebebasan berpikir kita dan membatasi ruang gerak kita. Istilah ‘pekerjaan tetap’ – yang dahulu menjadi kebanggaan calon mertua bila sang calon menantu sudah memilikinya, mungkin waktunya untuk direnungkan kembali sekarang.

Bila Anda memiliki ‘pekerjaan tetap’ sampai Anda pensiun, bukankah ini berarti Anda sudah memutuskan untuk diri Anda sendiri tetap sebagai pegawai sampai usia pensiun ?. Bukankah ini akan memasukkan Anda menjadi bagian dari 9 orang dari 10 orang yang tidak siap ketika pensiun tiba ?.

Yang jelas tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk berhijrah dari kwandrant E (Employee) ke S (Self Employed), B (Business Owner) atau bahkan I (Investor), tetapi bila Anda tidak mencobanya selagi muda – toh Anda kemungkinan juga harus menghadapinya ketika usia pensiun Anda tiba !, jadi mencobanya lebih cepat insyaallah akan lebih baik.

Yang perlu di sadari adalah bila Anda sudah di kwadrant S, B atau I , pekerjaan Anda juga tidak akan lebih ringan dari pekerjaan di kwadrant E. Terutama di awal-awal usaha, bisa jadi Anda perlu bekerja siang malam dan tidak mengenal hari libur. Bahkan ketika sukses-pun menghampiri Anda, sukses ini tidak bersifat permanen – Anda tetap harus bekerja keras untuk mempertahankannya atau bahkan mencapai puncak sukses berikutnya.

Sebaliknya juga ketika Anda gagal, kegagalan ini tidak harus bersifat final yang membuat Anda berhenti mencoba. Anda harus terus mencobanya karena kegagalan-kegagalan inilah yang nantinya justru menempa kwalitas Anda.

Di kwadrant S, B ataupun I, jadinya Anda memang tidak memiliki pekerjaan tetap – tetapi Anda tetap harus bekerja ! Wa Allahu A’lam.

Catatan : E, S, B, I adalah Istilah yang di perkenalkan oleh Robert T. Kiyosaki dalam bukunya Cashflow Quadrant (Warner Books, N.Y. 1998).

Artikel ini memberikan inspirasi dan iming-iming, meski juga tetap menyampaikan risiko serta konsekuensinya berpindah kuadran. Mungkin ada rekan-rekan pembaca yang bisa memberikan komentar atau pandangan lain? Terima kasih.

5 thoughts on “Pekerjaan Tetap vs Tetap Bekerja

  1. Semua kembali ke individual/masing2x … Fyi, pak muhaimin iqbal adalah orang yg hebat dalam bidangnya, semua sertifikasi sebelum dia berdalih menjadi pengusaha punya segudang kualifikasi ( info dari sumber yg dapat dipercaya). Sejak dia jadi pengusaha, dia buang dan bakar semua sertifikasi yg dia miliki, dan tidak bisa kembali lagi katanya, jadi lihat dan tatap masa depan lupakan masa lalu. Insyaallah maximalin ikhtiar dan serahkan semua kepada-Nya.

    • Sebuah sikap yang berani dan mungkin memang seharusnya seperti itu dalam bersikap. Setiap pilihan memiliki risiko dan harus dihadapi risiko tersebut. Termasuk pilihan apakah akan menjadi karyawan atau pengusaha. yang pasti, 9 dari 10 pintu rizki berasal dari berdagang.

  2. cukup menginspirasi pak, dengan berdagang kita bisa lebih leluasa mengatur diri. oiya, afwan iseng2 melihat blogrollnya pak dhino ada Agus MU disitu juga ya? kenal sama ustadz (panggilan si agus) dimana? kebetulan dulu sekelas waktu SMU

  3. Cukup inspiratif….. Saya juga sudah berfikir untuk berpindah kuadran tapi niatannya nanti kalau sudah pensiun diusia 55 (insyaallah masih dikasih umur panjang ;)) sedangkan utk memulainya sekarang (nekat) saya belum berani.
    Belum berani karena ketakutan akan stempel “pengangguran”, enggak ada pemasukan tetap (apalagi kalau harus minus), deelel
    Apa ada saran, bagaimana memulai mengumpulkan keberanian utk berpindah kuadrant? Saya gak mau nekat tanpa perhitungan…. Please, apa ada yg mau sharing? Makasih.

    • iya sih.. sepertinya bagus kalau memulai dari sekarang, di sela-sela pekerjaan tetapnya sebagai karyawan. Kalau sudah mulai berkembang, resign deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s