Karyawan dan KRL Commuter Line

Bagi sebagian pekerja ibukota Jakarta, moda transportasi kereta listrik atau KRL merupakan pilihan utama untuk menghindari kemacetan. Transportasi yang memiliki jalur sendiri, terjadwal, tarif yang terjangkau, dan tentunya bebas macet. Benar-benar idaman para pekerja ibukota. Namun sebagai transportasi idola para karyawan, KRL tidak membalas kecintaan para pekerja ini dengan fasilitas yang oke punya. Kondisi gerbong yang renta, AC tidak lagi menghembuskan hawa sejuk melainkan memutar udara panas dalam gerbong, penuh sesak para pengguna pada jam-jam berangkat dan pulang kerja, serta jadwal yang terkadang tidak ontime.

Banyak pilihan jadwal KRL yang dapat kita manfaatkan untuk mengantarkan ke tempat bekerja. Namun terkadang jadwal pilihan kita itu adalah jadwal dengan tanpa memberikan jeda toleransi jika terjadi gangguan pada KRL. Misal gangguan pada gardu listrik, KRL yang datang tidak tepat waktu (dhi yg saya katakan tidak tepat waktu adalah lebih dari 10 menit). Hal-hal semacam ini yang kadang tidak diperhitungkan oleh para pekerja sehingga ketika gangguan terjadi maka terlambatlah dia tiba di tempat bekerja.

Di Indonesia, khususnya Jakarta, gangguan maupun ketidaknyamanan tersebut tidak menjadi pembelajaran untuk kemudian dicarikan solusinya agar tidak kembali terjadi. Misalnya saja soal penuh sesaknya gerbong KRL pada jam-jam peak. Mengapa pihak KRL tidak memutuskan untuk menambah gerbong atau menambah jadwal kereta? atau mungkin memiliki inovasi lain dengan memanfaatkan teknologi canggih untuk memecahkan masalah ini? Apakah mereka berfikir bahwa pengguna KRL nrima-nrima aja kondisi tersebut karna pengguna belum komplain?

Para pengguna KRL commuter line adalah para pekerja kantoran yang notabene adalah kaum terdidik. Mereka adalah masyarakat yang sangat dekat dengan gaya hidup social networking. Apakah KRL tidak memandang bahwa ini adalah sebuah kekuatan yang dapat menghancurkan perusahaannya? Namun kenyataannya, sehebat apapun jaringan yang dimiliki oleh pegguna KRL, tak dapat memaksa pihak KRL untuk  memperbaiki layanannya kepada pengguna. Mungkin karena mereka merasa bahwa pengguna lah yang membutuhkan KRL, jadi kondisinya bagaimanapun, ya terima saja. Toh juga tidak ada perusahaan saingan yang dapat mengalihkan pilihan pengguna KRL.

Begitulah kiranya prasangka-prasangka yang terbentuk pada pengguna KRL seperti saya. Merasakan bahwa kami sudah jengah dengan macet di jalan, dan lebih memilih berdesak-desakan di gerbong kereta selama 20-an menit. Mungkin ada beberapa pihak yang tidak suka dengan keluhan-keluhan semacam ini dan mengatakan bahwa kami bukan orang yang bersyukur, bukan orang yang bersabar. Namun itu adalah anggapan pesimis terhadap sebuah solusi untuk maju, untuk hidup yang lebih baik dan lebih layak. Nrimo ing pandum, begitu kurang lebih pepatah Jawa mengatakan.

 

3 thoughts on “Karyawan dan KRL Commuter Line

  1. kunjungan sore…sekalian memeriksa apakah link blog saya (masih) ada, dan ternyata masih ada…trims

  2. Memang parah commuter line apalagi semenjak ada lop line,tambah parah,ac ga muter,kereta bs telat 20 menit,harga ga sebanding dengan pelayanan,pt kai dengan commuter line,ga beda jauh,sama buruknya,kaji ulang mengenai lop line apalagi kereta2 bekas pakai yang digunakan,harusnya ekonomi ac bukan 7 ribu kalo kereta panas begini,dah panas,telat,pantasnya harganya 3 ribu rupiah

  3. Pingback: Dari naik kereta kembali ber motor aja… « Blognya Arantan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s