Kerak Telor Betawi

Jakarta– 12 Juni 2010 yang lalu saya dan keluarga bersama keluarga mas Tomo menyempatkan diri untuk mengunjungi Pekan Raya Jakarta (PRJ) di Kemayoran. Arenanya sangat luas dan waktu kami tidak banyak untuk menjelajahi seluruhnya. Hanya beberapa Hall saja yang kami jelajahi. Satu hal yang pasti, mereka yang berjualan di PRJ itu, berusaha “mengambil” uang pengunjung masuk ke dalam pundi kas perusahaan mereka. Oleh karena itu, sebaiknya kalau memang tidak membutuhkan, bawa uang secukupnya saja, karena bisa-bisa gelap mata dan memenuhi nafus berbelanja.

Namun bukan itu yang ingin saya bahas.

Sepulang kami dari PRJ, kami melewati jalan panjang (apa ya nama jalan itu?), saya melihat di trotoarnya banyak pedagang kerak telor khas Betawi. Kerak telor adalah makanan asli daerah Jakarta (Betawi), dengan bahan-bahan beras ketan putih, telur ayam, ebi (udang kering yang diasinkan) yang disangrai kering ditambah bawang merah goreng, lalu diberi bumbu yang dihaluskan berupa kelapa sangrai, cabai merah, kencur, jahe, merica butiran, garam dan gula pasir. Mereka memasaknya menggunakan tungku kecil dari tanah liat atau anglo.

Cara memasaknya juga cukup unik. Ketika kerak telor telah setengah matang maka wajan pemasaknya dibalikkan dan kerak telor dibiarkan langsung terkena panas arang dari anglo sehingga kemudian menjadi sedikit gosong. Mungkin ini yang dinamakan keraknya. Harga jual yang perlu kami bayar untuk mendapatkan satu prosi kerak telor saat itu adalah Rp 12.000,- (mahal ya..?).

Hal unik lainnya, penjual kerak telor ini hampir seluruhnya menggunakan baju koko dan berpeci atau berkupluk. Mereka menggunakan pikulan untuk meletakkan bahan-bahan kerak telor.

Keberadaan pedagang kerak telor ini sekarang sudah sulit untuk ditemukan. Akan sangat ramai hanya ketika PRJ, seperti saat ini. Itupun mereka tidak berada pada lingkungan PRJ-nya, melainkan di trotoar pinggiran jalan. Padahal, pada zaman kolonial Belanda dulu, kerak telor ini menjadi makanan mewah yang disajikan pada hajatan besar para pembesar. Keberadaannya kalah bersaing dengan makanan cepat saji dari negeri luar. Padahal kalau dilihat dari bahan-bahannya, kerak telor ini termasuk healthy fast food. Harganya pun juga lebih murah daripada burger ala Paman Sam. Mungkin karena gengsi orang tak lagi membeli kerak telor. Wallahua’lam. Semoga bermanfaat.


9 thoughts on “Kerak Telor Betawi

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Jadi lapar, Bang…..

  2. penasaran kyk apa ya rasanya kerak telor😀

  3. udah hamir setahun di jakarta tapi belum pernah nyobain kerak telor..😦

  4. harga segitu di tempat itu sih wajar Mas…Tapi kalo nggak rame biasanya Rp.7rebu – ceban
    Tapi waktu di Monas, harga segitu ane bisa dapet yang pake telor bebek. Maknyusss…

  5. wah, ane jadi kangen sama kerak tolor PRJ nih, di Denpasar gak ada sih…😀

  6. gua suka bgt…walaupun gua bukan orang betawi….

  7. Assalamu’alaykum akh,
    Tukeran link boleh? Link antum dinaremasku dan dinoyudha udah ane masukin ke blogroll ane loh… semoga berkenan memasukkan blog saya ke blogroll antum juga

    makasii

  8. waduh tx atas infonya udah rada susah cr tkg keraktelor neh.btw prj enak g ya utk parkir mtr?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s