Tarbiyah Ruhiyah

Tulisan ini dibuat untuk meramaikan kegiatan MBM Expo 2010.

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Ath-Thalaq: 2-3)

Keberadaan ruhiyah bagi seorang muslim, mu’min, dan terutama da’i, menjadi layaknya komandan bagi amalan kesehariannya. Sifat-sifat ruhiyah yang fundamental bagi seorang da’i adalah iman, ikhlash, sabar, dan optimis. Manakala sifat-sifat fundamental ini tidak dimiliki seorang da’i, maka hidupnya akan hampa dari nilai, wibawa, dan pengaruh. Ia akan berda’wah untuk dirinya, bukan untuk Allah. Akan membangun kejayaan bagi dirinya bukan untuk Islam. Ia akan bekerja untuk kebahagiaan di dunia dan bukan untuk kehidupan di akhirat kelak.

Lantas, bagaimana agar kita memiliki ketinggian ruhiyah?

Al-Qur’anul Karim dengan pandangannya yang integral tentang alam kehidupan dan manusia telah memberi gambaran yang gamblang kepada kita tentang metode praktis dalam mempersiapkan ruhiyah, membentuk keimanan, dan men-tarbiyah jiwanya.

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Ath-Thalaq: 2-3)

Inilah bekal dan persiapan jalan yang panjang, bekal ketaqwaan yang selalu menggugah hati dan membuatnya selalu terjaga, bekal cahaya yang menerangi liku-liku perjalanan sepanjang mata memandang. Orang bertaqwa tidak akan tertipu oleh bayangan semu yang menghalangi pandangannya yang jelas dan benar.

Maka, bagaimanakah Jalan Mencapai Sifat Taqwa?

Di sini kita cukup membahas faktor-faktor terpenting yang dapat menumbuhsuburkan taqwa, mengokohkannya dalam hati dan jiwa seorang mu’min, dan menyatukannya dengan perasaan.

  1. Mu’ahadah (Mengingat perjanjian). Seorang mu’min mengikrarkan janji sebanyak 17 kali sehari dalam sholatnya (Q.S. Al-Fatihah: 5), dan ketika dia mampu komitmen atas janjinya itu, maka dia telah meniti jalan menuju ketaqwaan.
  2. Muroqobah (Merasakan Kesertaan Allah). Yaitu merasakan keagungan Allah Azza Wa Jalla di setiap waktu dan keadaan serta merasakan kebersamaan-Nya di kala sepi ataupun ramai.
  3. Muhasabah (Instrospeksi diri). Hendaklah seorang mu’min menghisab dirinya ketika selesai melakukan amal perbuatan, apakah tujuan amalnya untuk mendapatkan ridha Allah, atau disusupi sifat riya’?
  4. Mu’aqobah (Pemberian sanksi). Jika seorang mu’min menemukan kelalaiannya dalam memikul tanggung jawab atau meninggalkan kewajiban terhadap Allah dan sesama manusia, ada baiknya menjatuhkan sanksi kepada dirinya, misalnya dengan menginfakkan sejumlah uang tatkala meninggalkan sholat jama’ah, dsb.
  5. Mujahadah (Bersungguh-sungguh). Apabila seorang mi’min terseret dalam kemalasan, santai, cinta dunia, dan tidak lagi melaksanakan amal-amal sunnah serta ketaatan yang lain tepat pada waktunya, maka ia harus memaksa dirinya melakukan amal-amal sunnah lebih banyak dari sebelumnya.

Nb: Materi ini saya sampaikan pada kajian rutin pengurus Ukhuwah Mahasiswa Muslim Pajak (UMMP) STAN, 29 April 2010. Diambil dari Buku Tarbiyah Ruhiyah, buku terjemahan dari “Ruhaniyyatu Ad-da’iyyatu” karya DR. Abdullah Nashih Ulwan.

2 thoughts on “Tarbiyah Ruhiyah

  1. Assalam…
    Selamat pak atas juaranya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s