Perguruan Tinggi Kedinasan di Ujung Tanduk

Tahun 2003 masih ingat di benak saya waktu itu, kita seluruh elemen mahsiswa perguruan tinggi kedinasan yang dimotori oleh Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) melakukan aksi damai di direktorat jenderal perguruan tinggi departemen pendidikan nasional untuk mengubah pasal 29 tentang pendidikan kedinasan pada RUU sistem pendidikan nasional (RUU Sisdiknas). Kita menginginkan agar perguruan tinggi kedinasan tidak dihapus dalam sistem pendidikan di Indonesia. Pada saat aksi tersebut diikuti oleh lebih dari 100 orang dengan diguyur oleh hujan yang lebat. Akan tetapi semangat mahasiswa berplat merah tersebut tidak pudar hanya disebabkan oleh hujan.

Pada tanggal 11 juni tahun 2003 akhirnya undang-undang tersebut disahkan. Isi undang undang tersebut pada dasarnya memihak kepada setiap orang untuk mendapatkan pendidikan. Akan tetapai dalam pasal 29 ayat (1) UU Sisdiknas dikatakan “Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh departemen atau lembaga pemerintah non departemen”.inilah yang menyebabkan perubahan total yang dilakukan oleh STAN penyelenggara pendidikan kedinasan dimana dua jurusan (spesialisasi,red) mempunyai karakteristik dengan perguruan tinggi lain yang ada di indonesia.

Dengan berbekal undang undang tersebut maka Sekolah kita tercinta untuk dapat terus berkibrah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa bagi orang yang kurang beruntung untuk dapat menlanjutkan pendidikan tinggi yang harganya mulai melangit, maka STAN yang memiliki spesialisasi Akuntansi yang sama dengan perguruan tinggi lain merubahnya menjadi Akuntansi Pemerintahan agar relevan dengan undang undang tersebut.

Itulah keinginan yang kuat yang ditunjukkan oleh Almamater kita tercinta. Sebab pada saat itu yang ada dibenak kita semua bahwa pendidikan kedinasan masih tetap dapat dilaksanakan oleh kementrian asal relevan dengan dunia kerja yang kelak ditekuni oleh mahasiswanya. Hal ini tidak hanya berimbas kepada spesialisasi akuntansi. Perpajakan pun mengubah dirinya menjadi spesialisasi administrasi perpajakan. Akan tetapai untuk spesialisasi yang lain tidak terpengaruh karena di perguruan tinggi lain belum terdapat jurusan seperti yang ada di STAN tercinta. Akan tetapi kita sebagai mahasiswa kedinasan pada sat itu masih khawatir karena dalam pasa 4 bahwa ketentuan pendidikan kedinasan akan diatur dalam Peraturan pemerintah.

Pada tanggal 22 januari 2009 Peraturan Pemerintah pendidikan kedinasan telah disahkan oleh presiden. Isi dari peraturan tersebut sangat menghimpit bagi kita semua yang ada di perguruan tinggi kedinasan. Pada pasal 10 ayat (1) PP tersebut disebutkan, Syarat bagi peserta didik pendidikan kedinasan:

  1. pegawai negeri dan calon pegawai negeri pada Kementerian, kementerian lain, atau LPNK;
  2. memiliki ijazah sarjana (S-1) atau yang setara; dan
  3. memenuhi persyaratan penerimaan peserta didik pendidikan kedinasan sebagaimana ditetapkan oleh penyelenggara pendidikan kedinasan.
Pendidikan kedinasan yang dimaksud oleh PP ini hanya diperuntukkan oleh CPNS dan PNS dan telah mennempuh pendidikan sarjana atau setara (DIV) Bagaimana nasib teman-teman kita yang ada di Diploma III saat ini? Apakan nantinya STAN tidak akan ada lagi bagi alumni SMA yang mempunyai otak cemerlang dan tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan pendidikan tinggi?
Pemerintah hanya mempunyai beberapa pilihan untuk mengubah pendidikan kedinasan yang ada seperti STAN saat ini. STAN merupakan salah satu pendidikan kedinasan yang perserta didiknya buka CPNS. Dalam peraturan pemerintah pasal 24 ayat (1) huruf b diterangkan:
Untuk pendidikan kedinasan yang peserta didiknya bukan pegawai negeri dan bukan calon pegawai negeri, tersedia 3 (tiga) alternatif penyesuaian:

  1. pendidikan kedinasan yang bersangkutan dialihstatuskan menjadi badan hukum pendidikan, yang kementerian lain atau LPNK yang bersangkutan sebagai pendiri memiliki representasi dalam organ representasi pemangku kepentingan, untuk memenuhi kebutuhan sektoral yang berkelanjutan dan memerlukan pengawasan dan penjaminan mutu yang ketat dari kementerian lain atau LPNK yang bersangkutan;
  2. pendidikan kedinasan yang bersangkutan diintegrasikan dengan perguruan tinggi negeri tertentu dan setelah integrasi diadakan kerja sama dengan kemasan khusus untuk memenuhi kebutuhan sektoral yang bersifat temporer dan memerlukan pengawasan dan penjaminan mutu yang ketat dari kementerian lain atau LPNK yang bersangkutan;
  3. pendidikan kedinasan yang bersangkutan diintegrasikan dengan perguruan tinggi negeri tertentu atau diserahkan kepada pemerintah daerah jika kebutuhan akan pengawasan dan penjaminan mutu yang ketat dari kementerian lain atau LPNK yang bersangkutan rendah.
Tiga pilihan itulah yang harus dipilih oleh STAN agar dapat terus dapat melakukan pendidikan kedinasan. Dan dalam ayat (2) dikatakan Penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus selesai paling lambat 5 (lima) tahun sejak Peraturan Pemerintah ini diundangkan. Akankan ini menjadi akhir dari sekolah gratis yang dapat meningkatkan taraf hidup orang yang kurang beruntung?
Saya menjadi ingat salah satu sahabat saya di Diploma III. Orang tua nya pernah menceritakan bahwa anaknya berpamitan ke jakarta untuk menjadi buruh bangunan mengikuti pamannya. Saat dijakarta dia didorong oleh pamannya tersebut untuk masuk STAN, sehingga dia dapat kuliah di STAN samapi lulus dengan nilai tinggi, dan sekarang dia mampu untuk membantu adik-adiknya dapt mengemnyam pendidikan tinggi. Akankan suatu saat tidak ada lagi sekolah memberikan kepastian masa depan sehingga mereka dapat meningkkatkan taraf hidup keluarganya?
Apakah nantinya anak-anak orang kaya saja yang mampu untuk bersekolah? Inilah realita hidup kita. Akankah kita diam hanya termenung karena kita sudah bisa mengenyam perndidikan gratis? Tetapi generasi yang akan datang tidak bisa menikmati sekolah gratis yang berorientasi masa depan? Akankan kita akan kehilangan keunikan alamamater kita tercinta (sekolah gratis). Mungkin suatu saat jargon yang ada di kaos yang sering dipakai anak STAN akan hilang.
Kuliah di STAN
Mau bayar malah digratiskan
Mau beli buku dipinjemi
Mau cari kerja malah dicariin

Oleh : Hariyanto–Presma STAN 2009

13 thoughts on “Perguruan Tinggi Kedinasan di Ujung Tanduk

  1. Saya sgt setuju dgn bpk presma..
    Saya merasakan hal yg sm dgn yg bpk ceritakan,walaupun sy lulus d slh satu ptn ternama,itb,org tua sy menolak utk memberi sy biaya kuliah..
    Waktu itu sy sgt sedih,org sgt sedih krn tak lulus spmb,tp sy lulus tp tak ada biaya…
    Tapi ada sodara yg mmbri tahu kalo ad ptn gratis,stan,shg saya bisa mengecap bangku perguruan tinggi…
    Hal ini tak hanya terjadi pd sy,dengar2 cerita d kelas g twx sgt byk temen2 yg ninggalin ptn favrt,karna alasan biaya…

    Dan sekarang,satu2x harapan org tk berpunya yg pintar utk berkuliah sirna sudah…
    Ironis mmg bangsa ini..

  2. gw alumni

    boleh ga pendapat anda di blog ini gw taro di kaskus!!!
    biar rame sekalian…
    biar masyarakat tau!!!

  3. Kalo sy apapun kalo emang itu baik utk kemajuan pendidikan, maju terus!
    Semoga PT kedinasan semakin maju & menghasilkan output yg bisa diterima dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa & negara + agama

  4. Aiya..
    Ujung2nya alasan tentang duit sj..
    Pake alasan miskin lah, apa lah, ini lah..
    Kalau di bgnikn sj gmn.
    1. Sekolahnya gratis (dibiayai negara utk org2 tdk mampu) tp tdk ada ikatan dinas?
    Atau
    2. Asumsikan saja biaya penyelenggaraan sekolah dinas di pakai utk beasiswa, tetap tanpa ikatan dinas?
    Hayo..
    Pasti tidak mau..
    Jgn lg alasan duit lah..
    Krn seumpama
    stan tdk gratis tp masih ada ikatan dinas, bapak2 tdk akan mengeluh.
    ..
    Sy melihatnya begni, si a mengharapkan anaknya jg masuk stan karena tdk usah susah lamar2 krj lg..
    Hohoho..
    Betapa munafiknya.

  5. nice web site, terimakasih atas artikel dinar emasnya. Heri .

  6. saya tetap setuju agar stan menjadi salah satu PT kedinasan dengan pendidikan gratis dan ikatan dinas,,
    karena stan sudah memiliki track record yang bagus dalam menghasilkan output pegawai yang memiliki integritas,kapabilitas,loyalitas,serta mental spiritual yang baiki,,terbukti jumlah pendaftar yang pada tahun 2006 menjapai120.000 peserta,,

    maju terus perguruan tinggi kedinasan”STAN”

    EWAKO

  7. hmhm…semua ada kompensasinya😆
    artikel yang sangat menarik, kalo boleh mari kita tukeran link/tukeran banner, siapa tw kita bisa share lebih dalam terkait suatu hal, apalagi kita sebagai sesama rekan PTK yang Insya Allah menjadi abdi negara yang mumpuni..salam PTK😆:mrgreen: silakan pasang banner saya dan ditunggu kunjungan baliknya di link ini 😎
    banner codes on your widget :
    ” ( ckup hilangkan tanda petik pada awal dan akhir🙂 )
    thanks, PTK jaya😛

  8. Saya alumni STAN, mohon maaf jika pendapat saya mgkn sedikit berbeda dgn rekan2 sekalian.
    Ikatan dinas selalu menjadi poin utama yg membuat banyak pihak ngotot mempertahankn PTK.
    Iming2 ikatan dinas memang menggiurkan bagi banyak calon mahasiswa. Jaminan “masa depan” yg cerah seolah2 terbentang di depan mata.
    Namun, tanpa disadari inilah salah satu penyebab utama mengapa sebagian mahasiswa PTK menjadi apatis (termasuk STAN). Mereka (dan juga saya) akan berpikir mengapa harus mengembangkan kemampuan diri jika toh nanti pasti dapat kerja. Akibatnya apa? suasana kuliah menjadi garing segaring2nya, Nyaris tidak ada penelitian baru yg dibuat mahasiswa PTK. Kami tidak perlu berpikir keras seperti anak ITS, ITB, UI atau IPB untuk menghasilkan penemuan baru, riset baru karena kami akan menjadi birokrat. Dan seperti kita semua tahu, birokrasi bersinonim dengan rutinitas yg segan untuk menerima sesuatu yg baru.

    Tes CPNS adalah metode terbaik untuk menjaring siapa saja yg berminat menjadi PNS (terlepas dari buruknya pelaksanaan tes dan maraknya suap). Mereka yg mendaftar adalah mereka yg benar2 berminat menjadi PNS.

    Patut diingat, faktor utama kemajuan ekonomi suatu bangsa adalah para pengusaha, entrepreneur, bukan pegawai negerinya. Mengapa Indonesia tidak maju2? jelas karena sebagian besar warganya memilih menjadi ambtenaar daripada pengusaha. Silahkan bandingkan dengan Singapura, Jepang, AS, atau jiran kita Malaysia.
    Indonesia lebih butuh pengusaha kreatif macam Elang Gumilang, Purdi Chandra, atau Dahlan Iskan, daripada sekelompok PNS yg harus selalu bekerja berdasarkan SOP.

    • saya mahasiswa STAN, dan saya peduli nasib kampus saya, tapi saya lebih peduli dengan nasib bangsa saya.

      fakta dilapangan memang membenarkan pendapat sandy diatas. bangsa ini tidak bisa di bangun oleh mahasiswa yang apatis, yang hanya memikirkan setelah lulus jadi PNS saja, tapi oleh orang-orang yang mau ambil risiko, yang tidak takut mengembangkan diri, dan tidak tunduk pada kenyamanan belaka.

      saya akui, saya benar-benar kagum dengan sistem pendidikan di STAN yang begitu keras dan ketat, itu memang benar-benar harus dipertahankan. namun sekali lagi, kepasifan mahasiswa itulah yang membuat saya berpikir ada yang salah dengan PTK.

      • Yup, jika kita berpikir secara mikro, apalagi fanatisme instansi, kita pasti akan mengatakan keberadaan PTK sangat dibutuhkan. Tapi,, jika kita berpikir secara makro dalam konteks kenegaraan rasanya kita akan berpendapat sebaliknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s