Buat Yang Uda Nikah, Mau Nikah, Punya Niat Untuk Nikah

Buat Yang Uda Nikah, Mau Nikah, Punya Niat Untuk Nikah ^_^

by: Sarah Mellina via email.

Bertengkar adalah fenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumahtangga..(dalam kehidupan pertemanan juga sih!!), kalau ada seseorang berkata :”saya tidak pernah bertengkar dengan istri saya!” Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristri, atau  ia tengah berdusta (Upz, Benar ga yaa?? <Hugh, sa sok tau aja!!>)

Yang jelas, kita perlu menikmati saat-saat bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi saat-saat tidak bertengkar. Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi, Right??

Kalau tau etikanya, dalam bertengkarpun kita kita bisa merenguk hikmah, betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan kata yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan-pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa-basi tanpa emosi. Tulisan ini murni mon-politik, jadi tolong jangan tergesa-gesa membacanya. Bacalah dengan sabar, lalu renungi dengan baik, setelah itu…. terapkan dalam keseharian kita…setuju friend’s??

Memorandum of Understanding diterapkan dalam hubungan persahabatan yang terjalin hampir 17 tahun, mungkin kami bagai dua kutub magnet yang berlawanan, tapi herannya persahabatan kami langgeng sampai hari ini (Alhamdulillah Yaa Rabbi), palagi Insya Allah, sa akan dapat tambahan ponakan dari sahabat tersayang..^_^ (sulit mendapatkan sahabat sepertimu, ukht..yang mau mengerti, memahami, percaya, dan menerima kita apa adanya, seburuk apapun kita) daaann..kami sepakat untuk menerapkan dalam kehidupan kami dalam bingkai Rumah Tangga kami nantinya, karena bisa jadi pertengkaran merupakan hal yang kadangkala tak dapat terelakkan, maka…kalaupun harus bertengkar…

1.       Kalau bertengkar tidak boleh berjama’ah. Cukup seorang saja yang marah-marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama’ah. Seorangpun  sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika seorang marah dan saya mau menyela, segera ia berkata “STOP” ini giliran saya! Saya harus diam sambil Istighfar. Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan hati yang disayangi…”duh ukhtie…bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu…” (hehehe..bahasanya =D)

Demikian juga kalau pas kena giliran saya “yang olah raga otot muka”, saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman. Maka kini giiliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah, pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama’ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjamaah selain marah =)

 

2.      Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah berlipat masa (maksudnya masa lalu kita). Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah diri kita yang tidak bisa kita ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkarpun kita perlu menjaga harapan dan bukan menghancurkannya [Rasanya mau nangis sa menulis ini ='(]. Sebab pertengkaran diantara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya.

Kalau saya melakukan kesalahan dan ia tidak suka, maka kemarahan atas kesalahan saya itu sekeras apapun kecamannya, adalah “ungkapan kepedulian yang keras”. Tapi bila itu dikaitkan dengan seluruh kesalahan saya, minggu lalu, awal bulan kemarin, dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh. Bila keterlambatannya membuat saya kesal (saya termasuk orang yang tidak suka dengan system jam karet kuadrat plus2/menunggu tak pasti apalagi tanpa confirm), sepedas apapun saya marah, maka itu adalah “harapan ingin disayangi, lebih tinggi”. Tapi kalau itu dihubungkan dengan kesalahannya kemarin dan tiga hari yang lewat plus tuduhan ” uda lupa punya janji dengan saya yaa??”, maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, upz saya telah membunuhnya, membunuh cintanya.

Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah… OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini…

 

3.      Kalau marah jangan bawa-bawa keluarga. Saya dengan sahabat saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan bunda dan ayah saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dengan kakak dan pamannya. Dalam konsep Qur’an, seseorang itu tidak menanggung kesalahan pihak lain (QS. 53: 38-40)

Saya tidak akan terpantik marah bila Cuma saya yang dimarahi, tapi bila bunda saya diajak serta, jangan coba-coba. Begitupun ia. Kata ayah saya : “Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak”. Memarahi orang yang menyayangi saya, lebih mudah dicari maafnya daripada ngambek pada yang tidak mengenal hari dan diri saya.. Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usah ditambah dengan memusuhi kelg.nya!
4.      Nah ini point (+)an. Kalau marah jangan didepan anak-anak. Anak adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tuanya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu khan ayah saya. Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :

* Ibu   : ” Saya ini cape’, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu??!!”

* Bapak : ” Saya juga cape’, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda???!!”

* Anak   : “……..Yaaa….Ibu saya babu, bapak saya kuda…..terus saya ini apa?”

Kita harus berani berkata : “Hentikan Pertengkaran!” ketika anak datang. Lihat mata dan tawa mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan, haruskah ia mendengar kata bahasa hati kita??

 

5.      Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat. Pada setiap tahiyyat  kita berkata: “Assalaa-mu’alaynaa wa ‘alaa’ibaadilahissholiihiin” Yaa Allah,damai atas kami, demikian juga atas hamba-hamba-MU yang sholeh….

Nah, andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap sahabat kita dengan amarah, maka kita telah mendustai-Nya, padahal nyawamu ditangan-Nya.

OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi… Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas Isya…Atau….habis Isya sebatas…..?? Nggg…Ah, kayaknya kita sepakat kalau sehabis Isya sebaiknya memang tidak bertengkar =)

 

6.      Kalau kita saling menyayangi, kita harus saling memaafkan, tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah “Proses belajar untuk menyayangi lebih intens”. Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita marah-marah.

 

Ini saja, semoga bermanfaat,

“Dengan ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi”. *selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar tapi bodoh*

11 thoughts on “Buat Yang Uda Nikah, Mau Nikah, Punya Niat Untuk Nikah

  1. Artikel yang bagus sekali, patut diadikan contoh dan renungan. Terimakasih sudah berbagi.

  2. Subhanallah, sebuah tulisan yg di buat dengan hati, akan mudah pula masuk ke dalam hati

    JFS akh…

  3. thanks for share, Din..

  4. saya simpen dulu, maklum masih bujangan hehehe

  5. Salam Takzim
    Selamat malam Kang, maap nih baru bisa hadir karena sakit kang. Sukses ya Kang
    Salam Takzim Batavusqu

  6. sepertinya untuk urusan “ini” saya harus banyak belajar dari mas dino….
    butuh banyak bimbingan nih mas agar nanti bisa benar2 siap saat mengarungi bahtera rumah tangga…

  7. catet catet catet…

  8. Salam Takzim
    Mohon izin memberi Award kepada Sahabat dijemput ya jika berkenan
    Salam Takzim Batavusqu

  9. Salam Takzim
    Mohon izin memberi Award kepada Sahabat jika berkenan dijemput ya
    Salam Takzim Batavusqu

  10. terharu membacanya, soalnya beberapa hari yg lalu abis bertengkar.. hiks.. hiks..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s