Kebhinekaan dalam Sosial Ekonomi

Kebhinekaan merupakan suatu keniscayaan pada realitas bangsa Indonesia yang tak dapat dipungkiri keberadaannya. Untuk mewujudkan rakyat Indonesia yang adil dan sejahtera, kebhinekaan harus dimaknai sebagai “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sedangkan untuk menumbuhkan naluri keanekaragaman atau pluralisme, salah satunya dapat dilakukan dengan sikap empati, yaitu menempatkan diri pada posisi atau keadaan orang lain.

Dari kacamata ekonomi, bangsa Indonesia masih dalam taraf negara berkembang (Developing country), yaitu negara dengan rata-rata pendapatan yang rendah, infrastruktur yang relatif terbelakang, dan indeks perkembangan manusia yang kurang dibandingkan dengan norma global.  Jika mengacu pada data World Development Indicators, database yang dirilis oleh Bank Dunia pada 1 Juli 2009, Indonesia berada di urutan ke 146 dengan GNP per kapita sebesar US$ 3.830 per tahun, itu setara dengan 38 juta-an rupiah per tahun.

developing-developed. sumber: graphicreflections.org

developing-developed. sumber: graphicreflections.org

Banyak lini yang perlu dibenahi dari sisi sosial ekonominya, seperti pengangguran, pendapatan per kapita yang masih rendah, derajat kesehatan masyarakat yang semakin menurun, dan kesenjangan pendidikan. Belum lagi kasus korupsi dan utang negara yang masih bertumpuk entah hingga generasi kapan akan lunas, ataupun masalah-masalah kemiskinan dan turunannya. Secara umum, bangsa kita masih dicap sebagai bangsa yang butuh bantuan.

Kebhinekaan sosial ekonomi  itu sendiri, dapat dipandang sebagai adanya suatu perbedaan strata atau status sosial ekonomi pada tatanan masyarakatnya, yaitu adanya si kaya dan si miskin. Bangsa Indonesia yang majemuk secara budaya, agama, dan tentunya karakter, memang menjadi perhatian kita semua untuk terus memperkuat jati diri bangsa. Sehingga kemajemukan itu tidak menjadi penyebab retaknya sendi kehidupan nusantara yang sudah dibina sejak zaman Majapahit.

Namun, tak dapat dipungkiri pula bahwa kemajemukan sosial ekonomi juga perlu mendapat perhatian yang lebih, karena kesenjangan sosial ekonomi ini bukannya tidak mungkin menjadi pemicu terjadinya keretakan-keretakan yang berakibat parah di negeri ini.

Si Miskin

Di pinggiran jalan di ibukota, banyak dijumpai anak-anak kecil yang selayaknya mereka berada di bangku sekolah, namun mereka harus menengadahkan tangan meminta uang recehan, atau menepuk-nepuk tangan dan bernyanyi di samping jendela mobil. Tak sedikit pula anak-anak remaja usia produktif dan para ibu yang menjual jasa 3 in 1-nya di pinggiran jalan area 3 in 1, dengan mengacungkan jari telunjuknya ke setiap mobil yang lewat, dan seketika akan lari tunggang langgang ketika datang petugas Satpol PP. Juga tak jarang ditemui, rakyat Indonesia yang tinggal di bawah jembatan, atau di pinggiran kali, dan hidup tanpa memedulikan kesehatan.

meminta sedekah. sumber: detik

meminta sedekah. sumber: detik

Si Kaya

Namun di satu sisi, kehidupan rakyat Indonesia hampir bisa dikatakan jauh dari pandangan atas bangsa yang butuh bantuan. Hidup glamor dengan kemewahan yang dimilikinya: rumah megah, mobil mewah di jalan-jalan di ibukota, pakaian modis dan rapi jali, laptop dijinjing kemana-mana, handphone mewah yang berganti-ganti setiap bulannya.

Sering kita lihat di sinetron-sinetron Indonesia yang menayangkan seolah-olah kehidupan rakyat Indonesia itu sudah sangat makmur, yang setiap harinya memakai jas meski di dalam rumah, atau menggunakan sepatu dan high-heel, meski di dalam rumah, kemana-mana menggunakan mobil mewah yang tentunya bukan mobil rerata yang dimiliki masyarakat Indonesia. Sangat kontras dengan gambaran secara umum yang disematkan pada bangsa Indonesia.

Jakarta. sumber: ombakblog.files.wordpress.com

Jakarta. sumber: ombakblog.files.wordpress.com

Kebhinekaan itu dimaknai sebagai keadilan sosial

Dari gambaran perbedaan dua kehidupan itu, kita bisa melihat adanya kesenjangan sosial dan ekonomi yang begitu kontras pada bangsa ini. Satu dari trilogi pembangunan, yaitu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya,  memang belum dapat dicapai sepenuhnya. Namun bukan berarti kebhinekaan sosial ekonomi ini dapat dibiarkan. Perlu ada usaha ekstra dari pemerintah dan juga masyarakat (termasuk blogger/narablog), untuk mempersempit kesenjangan sosial ekonomi, dan demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Banyak hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah, misalnya dengan membuka lapangan kerja baru, mengajarkan keterampilan-keterampilan khusus kepada si miskin, memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak yang kurang mampu, dsb.

Bagi kita para blogger, apa yang bisa kita lakukan? Minimal dengan tulisan-tulisan kita, bisa menggugah jiwa sosial si kaya, sehingga mau peduli terhadap keadaan si miskin. Atau akan lebih baik lagi, jika ada langkah nyata, misalnya dengan mengajarkan keterampilan khusus kepada si miskin, agar dapat memanfaatkannya untuk mendatangkan penghasilan.

Keadilan sosial. sumber: pelita.or.id

Keadilan sosial. sumber: pelita.or.id

Empati dalam Pluralisme

Masih kita lihat juga harmonisnya bangsa Indonesia yang saling bertoleransi dan bertenggang rasa dalam kehidupan sosial, memberikan empati mereka kepada orang lain yang membutuhkan. Masih banyak rakyat Indonesia yang mau menginfakkan hartanya untuk mereka yang kurang mampu (sampai-sampai harus dilarang untuk bersedekah oleh Pemerintah), atau masih banyak rakyat Indonesia yang mau memberikan donasi kepada mereka yang tertimpa korban bencana alam, juga masih banyak rakyat Indonesia yang membayar zakat sebagai cerminan kepedulian sosial dan ekonomi terhadap sesama.   Mereka tidak hanya tinggal bersama (co-existence), tapi juga saling memberdayakan (pro-existence).

Inilah kebhinekaan Indonesia dalam bidang sosial dan ekonomi, yang dapat dimaknai dengan pemahaman akan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Contest 2009 yang merupakan satu rangkaian kegiatan  Pesta Blogger 2009.

8 thoughts on “Kebhinekaan dalam Sosial Ekonomi

  1. salam kenal

    kunjungan perdana ini😛

    semoga menang kontesnya🙂

  2. hebat mas tulisannya, saya sependapat dengan mas dino…masalah kebhinekaan jika ditilik dari sudut perekonomian..
    untuk kasus sinetron, mungkin kebanyakan masyarakat kita suka dengan hal-hal yang utopis, buktinya rating2 acara seperti itu tak pernah turun, selalu saja ada yang setia menunggu…
    masalah kesenjangan, dalam Islam pun bukankah sudah diperintahkan berzakat? bukankah konsep seperti itu bertujuan untuk memperkecil jurang perbedaan antara si miskin dan si kaya..
    tapi itulah kehidupan mas, tanpa si miskin, si kaya mungkin tak bisa menjadi kaya, juga tanpa si kaya, mungkin si miskin tak punya mimpi….

    salam mas dino, sudah sampai kampung halaman yah..

    • Saya tau lomba ini dari tulisan kamu, mar..hehe..makasih ya..
      Kemarin kepikiran tentang gap kaya dan miskin saja, kemudian menggabungkannya dengan makna kebhinekaan.
      Sepakat sekali, zakat itu memang ajiiiiib..

      Masih di Jakarta, insya Allah besok Jumat jam 15.00 naik kereta. Mohon doa ya. Lha Muamara sendiri, ga pulkamp?

  3. mewujudkan keadilan sosial hanya mengandalkan peran pemerintah semata tanpa peran masyarakat itu sendiri akan sulit tercapai. sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar, mestinya program penyempitan kesenjangan sosial kaya-miskin akan lbh cepat tercapainya. esensi zakat yg belum maksimal, harus lbh diberdayakan lagi. bukankah di dalam harta kita ada haknya si miskin?

  4. Selamat siang mas… wah ganti cat ya??? baru tau.
    jarang jalan-jalan mas sekarang.
    Ikutan ini juga mas??? saya baru posting neh.

    kadang melihat saudara-saudara kita yang belum beruntung itu miris rasanya. Mereka yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin.
    Sebenarnya apa yang salah sih di bangsa kita ini???

  5. bhinneka dalam ekonomi.
    memakai jas dalam rumah.
    masih ada beberapa istilah baru di sini🙂
    sebetulnya zakat mempunyai potensi sangat besar jika dikelola secara benar. benar2 dimanfaatkan untuk menjembatani kebhinekaan tadi. mulai zakat fitrah, mal, profesi, berikut sedekah dll.
    dibandingkan pungutan pajak lain yang berlandaskan hukum pidana/perdata, posisi zakat jauh lebih tinggi karena dilandasi hukum agama yang menjaminkan akhirat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s