Kehidupan

Seperti malam-malam Nahwu sebelumnya, malam ini saya mendapatkan hikmah lagi dari ustadz di kelas Nahwu. Malam ini, kami melanjutkan pelajaran meng-i’rob Faa’il. Setelah selesai pelajaran, dan masih ada waktu, beliau memberikan taushiyah kepada kami, yaitu dari sebuah buku: Rich Dad Poor Dad yang beliau baca. Beliau menjelaskan kepada kami dalam bahasa Arab, kurang lebih seperti ini intinya, “Al-hayyah khaiiruu mudarrisiina”, kehidupan adalah guru yang terbaik bagi kita.

Kehidupan adalah guru yang terbaik bagi kita, namun kebanyakan manusia tidak memahaminya. Kehidupan itu mempermainkan…mempermainkan bagi mereka yang tidak mengambil pelajaran dari kehidupan. Mereka akan merasa kehidupan ini adalah kekecewaan demi kekecewaan. Namun, bagi ulil albab, orang-orang yang berakal, maka kehidupan ini adalah guru yang terbaik.

Malam ini adalah “pengumuman” (kalo bisa disebut sebagai pengumuman) Indeks Prestasi, yaitu melalui sms ke ketua kelas, dan ketua kelas akan membalas sesuai dengan nomor urut absen kelas. Alhamdulillah, jalinan angka-angka itu menunjukkan bahwa mereka lebih besar dari jalinan angka-angka semester yang lalu. Meski mereka tidak seperti apa yang saya targetkan. Namun, tetap bahwa itu adalah yang terbaik dari Allah untuk saya.

Kehidupan adalah guru yang terbaik bagi kita. Begitu juga dengan episode kehidupan malam ini, juga satu pekan kemarin, yang sarat dengan hikmah dan pelajaran, paling tidak bagi saya. Indeks Prestasi itu, meski tidak seperti apa yang saya targetkan, namun nilai itu mencerminkan ikhtiar yang sudah saya lakukan, tentunya diiringi dengan doa, dan juga bantuan teman-teman serta “sedekah” nilai dari para dosen. Saya tetap mensyukuri nilai tersebut, karena dengan kondisi saya yang saat ini: tempat tinggal jauh dari kampus, pulang kuliah harus langsung datang ke Ma’had Al-Manar hingga malam, mendapatkan amanah sebagai Sekjen MBM, dan juga aktivitas yang kurang di kelas karena keterbatasan pemahaman (atau bisa dikatakan malas untuk memahami), saya masih diberi kepercayaan oleh Allah untuk mendapatkan amanah indeks prestasi tersebut. Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta ‘alam.

Tidak berbeda, episode kehidupan selama 1 pekan kemarin, yaitu berusaha mengasuh Afifah, yang ternyata lebih dari hanya sekadar kata “mengasuh”. Lebih dari itu, lebih tepatnya kami sama-sama belajar, sama-sama ber-tarbiyah. Saya belajar bagaimana menanamkan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya, saya belajar bagaimana menanamkan sikap sabar pada diri saya juga pada Afifah, saya belajar bagaimana mengingat keagungan Allah melalui hadirnya seorang anak di tengah-tengah kami. Afifah juga belajar bagaimana mendengar, “berbicara”, memandang, merasakan kasih sayang, bersabar (menunggu umminya pulang untuk memberikan ASI), dan banyak lagi. Meski ada 2 kesalahan fatal yang saya lakukan terhadap Afifah, namun secara umum, tidak buruk kinerja saya “mengasuh” Afifah (boleh donk… :D).

Semoga cerita ini bermanfaat.

2 thoughts on “Kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s