Pekerja Sejati

Suatu siang, saya berjalan di daerah Panti Asuhan di Jurangmangu Timur. Berlalu dari depan saya seorang pedagang asongan yang menjual pernik aksesoris dan mainan untuk anak-anak. Sekilas saya melirik raut wajahnya, dan secepat itu pula saya menangkap seluruh postur tubuhnya, hanya dengan satu kerlingan mata. Kemudian, apa yang saya rasakan sungguh luar biasa, saya merasa ada yang menderu di hati ini. Seakan menghakimi diri, bahwa diri ini belum banyak berbuat, belum layak dikatakan sebagai pekerja.

Orang tersebut sudah sering saya lihat di masjid kampus STAN. Namun siang tadi, saya merasa beliau sungguh luar biasa. Di siang hari, beliau yang usianya sekitar 30-an, mendorong gerobak berisi aksesoris dan mainan anak-anak yang juga tidak banyak, dengan kondisi kedua kaki (maaf) kurang sempurna. Mencoba menjajakan dagangannya yang menurut saya, tidak banyak keuntungan yang didapat dari berjualan barang-barang tersebut.

Apa yang kemudian memenuhi pikiran saya? Tentang nikmat berupa pekerjaan. Mengapa banyak orang Indonesia ingin menjadi PNS (terlihat dari banyaknya pendaftar CPNS)? PNS adalah pekerjaan yang sungguh sangat nyaman, minim risiko, dan menjadi sumber penghasilan yang permanen (asumsi tidak terjadi hal-hal buruk selama bekerja).

Lantas, bagaimana dengan pekerja-pekerja seperti mereka para pedagang asongan? Mereka yang mengumpulkan rongsokan berkeliling setiap hari, pagi, siang untuk membeli barang-barang rongsokan dari rumah ke rumah. Bagaimana dengan mereka para penjual minyak tanah yang mendorong gerobak berisi minyak tanah yang saat ini sudah jarang diperlukan oleh orang. Bagaimana pula dengan mereka yang berjualan tanaman, menarik gerobaknya menyeberangi jalan arteri dan masuk ke perkampungan-perkampungan. Berapa sih penghasilan yang mereka dapat? Sebandingkah dengan upaya yang mereka lakukan?

Merekalah, menurut saya, seorang pekerja sejati. Yang jika bekerjanya diniatkan untuk ibadah, maka setiap peluhnya yang mengalir, dinilai dengan pahala ibadah. Bahkan diganjar dengan pahala jihad. Berbeda kondisi dengan para PNS yang sudah nyaman bekerja di dalam kantor, ruang ber-AC. Subhaanallah. Ya, tentu saja mereka juga bekerja, mereka juga beribadah (jika diniatkan untuk ibadah), mereka juga seorang pekerja. Namun, kok sepertinya apa yang PNS terima lebih besar dari pengorbanan yang mereka lakukan ya?? A[akah mereka juga seorang pekerja sejati?

Mari mencoba mensyukuri apa yang Allah berikan kepada kita, berupa nikmat menjadi PNS. Bekerja sebaik mungkin, memberikan apa yang terbaik dari diri kita. Tak usahlah berpikir untuk mendapatkan “uang tambahan” apalagi harus KORUPSI. Naudzubillah.

Bagi mereka yang “belum mempunyai” pekerjaan…tak usah mencarinya, karena pekerjaan tak perlu dicari!!!

Gambar dari Google.

6 thoughts on “Pekerja Sejati

  1. assalamu’alaykum ww
    PNS memang ‘nyaman’ dan ‘aman’ mas
    tapi godaan juga berat loh
    he8

    ana juga gak pengen lama2 jadi PNS

  2. w sangat malu pada mereka,
    karna mereka hidunp dengan susah payah dan w dsin hidup sewena – wena
    dengan membaca ini semua w sangat terharu banget thank yaaaaaaaaaaaaaaa

  3. w malu pada diri w sendiri
    thank ya braw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s