Tips Memilih Pengasuh Bayi

Pastinya, sebelum bekerja kembali, Anda ingin segala sesuatunya di rumah berjalan dengan baik. Kehadiran si kecil, yang telah membuat hidup Anda dan suami jauh lebih bermakna, menimbulkan persoalan baru. Siapa yang akan menjaga dia saat Anda bekerja di kantor?

Beruntunglah bila Anda masih memiliki orangtua atau sanak saudara terdekat yang bisa dititipi anak. Namun, tak semua orang memiliki famili yang dapat mengurus anak. Andaikan mereka bersedia, boleh jadi Anda tetap harus mempekerjakan seorang pengasuh bayi atau baby sitter untuk mengurus keperluannya. Artinya, orangtua atau famili Anda bertindak sebagai ’mata ketiga’ yang mengawasi keseharian si kecil.

Dengan berbagai alasan, memilih pengasuh bayi memang memerlukan kejelian tersendiri. Rekomendasi dari yayasan, sebaiknya tidak dianggap sebagai ’prestasi’ yang mutlak. Toh, yayasan berkepentingan menyalurkan anggotanya supaya memiliki pekerjaan. Karena itu, lebih baik Anda mengandalkan rekomendasi dari orang lain, misalnya teman, saudara, dan orang yang dapat dipercaya, atau orang lain yang pernah menggunakan jasa yayasan atau pengasuh anak tersebut.

Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam memilih pengasuh anak?

1. Bila tidak ada rekomendasi dari orang biasa yang Anda percayai (teman, saudara, dsb), pergilah ke yayasan yang sudah terkenal dan memiliki reputasi positif. Anda bisa bertanya pada orang lain yang telah lebih dulu menjadi klien yayasan tersebut.

2. Pada saat memilih pengasuh anak, lakukan wawancara dengannya dan perhatikan caranya menjawab. Apakah logis, sopan, dan menunjukkan intelegensia yang cukup dan sesuai dengan kondisi rumah Anda.

3. Benarkah ia suka anak-anak? Lontarkan pertanyaan ini, walaupun bisa saja ia berbohong. Karena itu, kejar dengan pertanyaan lain, seperti apakah ia dulu mengasuh adik atau keponakannya? Apa pengalamannya yang berkesan saat mengasuh anak? Apa yang paling ia sukai saat mengasuh anak?

4. Lihat apakah ia tergolong pencinta kebersihan. Bayi identik dengan kebersihan, sebab itu, siapa pun yang berada dekat bayi, diharapkan juga bersih dan tidak membawa kuman penyakit.

5. Pengalamannya bekerja. Bila Anda memilih pengasuh anak senior, artinya ia telah pernah bekerja. Tanyakan pengalamannya tentang mengasuh anak sebelum ini, di mana saja ia bekerja, dan mengapa ia berhenti (boleh jadi ia bukan dipecat, misalnya majikan pindah ke luar kota dan lain sebagainya).

6. Caranya mengasuh anak. Tanyakan beberapa hal yang intinya merupakan ujian untuk kecakapannya, seperti bagaimana caranya memandikan bayi, apa yang harus dilakukan bila bayi demam, bagaimana menyendawakan bayi, dan semacamnya.

7. Teliti filosofi dan pendapatnya. Maksudnya, apakah dalam wawancara singkat itu terlihat bahwa Anda dan dia memiliki kesesuaian dalam mengasuh anak. Seperti, bahwa Anda tetap akan terlibat dalam pengasuhan, kendati berada di kantor.

8. Tes kesehatan. Karena bayi tergolong rentan, usahakan memperoleh pengasuh yang sehat. Bila mana ia menderita bronchitis misalnya, mungkin ia tidak dapat diterima sebagai pengasuh.

9. Gunakan intuisi. Memang, gambaran tentang pengasuh anak yang ideal belum tentu ada di dalam seorang calon pengasuh anak. Namun, cobalah gunakan intuisi, sehingga Anda bisa merasa lebih pasti.

Source : http://www.infobunda.com/

2 thoughts on “Tips Memilih Pengasuh Bayi

  1. Bagi yang punya info tentang pengasuh bayi yang recommended, tolong sampaikan ya..terima kasih.

  2. Saya mau komplain tentang cara mengasuh bayi yang dilakukan ibu-ibu masa kini. dimulai dari cara melahirkan yang lebih memilih cesar daripada normal, alasannya sakit & tidak mau repot mengatur berat badan dan ikut senam hamil. takdir perempuan itu merasakan sakitnya persalinan, kenapa lebih memilih perutnya dibelah pakai obat bius. setelah lahir, bayi tersebut duluan meminum susu formula, tidak ada usaha sedikitpun untuk mengeluarkan ASI yang jelas-jelas sangat dibutuhkan bayi tersebut, sebentar lagi botol bayi akan jadi ibu bagi bayi-bayi yang dilahirkan jaman sekarang. berikutnya tentang pengasuhan bayi yang ditelantarkan oleh ibu pekerja, itulah kenapa saya menolak pendapat tentang menikah muda, pikirkan sebelum menikah apakah keuangan sudah cukup untuk berkeluarga dan punya anak, jangan nafsu saja didahulukan dengan alasan tidak mau berbuat dosa. Sebenarnya pihak laki-laki saja yang harusnya bekerja, sedangkan ibu tinggal di rumah mengasuh bayi/anak. Saya tidak habis pikir ada ibu yang merelakan anaknya bersama pengasuh yang mungkin berpendapat bukan anak saya. Peran ibu sebagai orangtua yang harusnya berada di samping bayinya tidak saya temukan dalam masa sekarang ini, semuanya memakai pengasuh yang kalau bayi jatuh ataupun menelan benda logam pengasuh itu mungkin hanya akan menonton sinetron pavoritnya daripada memperhatikan asuhannya/bayi. atau pengasuh itu mungkin akan memaksa bayi itu untuk tidur di ayunan sekeras-kerasnya agar pengasuh ini bisa menikmati sinetron atau tidur mungkin karena begadang semalam. Saya sampai sekarang tidak masuk akal memberikan bayi/anak kepada pengasuh. apapun alasannya, kecuali ibu bayi itu sudah meninggal itupun harusnya bapak bayi itu menggantikan tugasnya atau memberikannya kepada keluarga dekat. Saya juga heran dengan ibu-ibu sekarang yang lebih memikirkan cara instan dengan memakai pampers kepada bayinya, sungguh hancurkan orangtua jaman sekarang yang tidak mengajari anak-anak gadisnya sebelum menikah bagaimana nanti jika punya bayi. Saya perhatikan iritasi karena urin & kotoran menempel di tubuh bayi karena pampers bukan hal luar biasa, semua biasa karena ada salep kulit kata ibunya. Coba bayangkan dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam bayi ditangan pengasuh, mau dibawa kemana peran ibu jaman sekarang ini. Banyak hal yang ingin saya protes kepada ibu-ibu muda jaman sekarang ini, apalagi ini jaman BBM, Facebook, mungkin ibu-ibu muda jaman sekarang ini lebih baik membalas BBM ataupun menjawab comment facebook, daripada menganti celana bayinya yang baru saja terkena urin. atau pampers adalah jawabannya. celakanya waktu bersama bayi/anaknya hilang hanya untuk mengejar beberapa lembar uang, harusnya sebelum menikah semua harus dipersiapkan jangan mengorbankan bayi/anak. syukurnya calon istri saya orangnya mandiri, saya kasihan lihat orangtua yang mengorbankan anak/bayinya ditangan pengasuh, sedangkan ibunya sibuk mencari uang sampai manakah kekayaan itu dicari tidak cukupkah suami bekerja, kuncinya sebelum menikah persiapkanlah semuanya. terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s