Analisis Kasus Negosiasi

Setelah mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari tahun 2006 sampai pertengahan 2008, harga susu dunia mulai mengalami penurunan. Penurunan harga susu dunia ini dipicu oleh kelesuan usaha akibat daya beli konsumen turun seiring dengan krisis global. Penurunan ini menyebabkan harga susu impor lebih murah dibanding dengan susu dalam negeri. Menanggapi hal ini, PT Nestle Indonesia mulai tanggal 11 Desember 2008 menurunkan harga pembelian sebesar Rp 200 per liter. Penurunan ini segera diikuti oleh produsen susu lain yang tergabung dalam IPS (Industri Pengolahan Susu). Pada akhir April, IPS menginginkan adanya penurunan lagi harga susu sebesar Rp300 per liter.

Peternak sapi perah yang tergabung dalam koperasi susu menolak rencana Industri Pengolahan Susu, yang akan menurunkan lagi harga pembelian susu Rp 300 per liter. Bila hal itu dilakukan, harga susu yang rata-rata Rp 3.500 – Rp 3.600 per liter, akan turun menjadi Rp 3.200 – Rp 3.300. Untuk mengatasi masalah ini, kontrak kerja sama jual beli susu akan dilakukan IPS dan GKSI (Gabungan Koperasi Susu Indonesia).

Sebagai tindak lanjut atas kontrak kerja sama ini, pada tanggal 1 Mei 2009 diadakan rapat antara GKSI dan IPS dengan mediator Dirjen Industri Agro dan Kimia, Departemen Perindustrian, Benny Wahyudi. Dalam rapat gabungan tersebut, IPS meminta penurunan harga susu sebesar Rp 300,- per liter. Sedangkan GKSI mengajukan agar penurunan hanya sebesar Rp 50,- per liter. Akan tetapi, IPS menolak usulan dari GKSI tersebut.

Akhirnya, setelah dilakukan pembicaraan antara kedua belah pihak dan juga mediator, muncul satu alternatif kesepakatan, yaitu penurunan harga susu sebesar Rp 150,- per liter, atau setengah dari tuntutan IPS. GKSI merasa berkeberatan atas alternatif keputusan tersebut, karena hal ini akan mengurangi dana untuk biaya operasional penghasil susu. Atas keberatan GKSI tersebut, pemerintah (Departemen Perindustrian) memutuskan bahwa penurunan harga sebesar Rp 150,- per liter nantinya tidak dibebankan pada peternak, melainkan disubsidi dari dana stimulus APBNP untuk Program Pengembangan Persusuan Nasional Jangka Menengah dan Jangka Panjang. Keputusan tersebut menjadi angin segar bagi GKSI karena pemerintah berjanji akan segera merumuskan keputusan itu dengan instansi terkait.

Bagaimanakah analisis BATNA, Reservation Price, dan Zone of Possible Agreement (ZOPA)nya?

6 thoughts on “Analisis Kasus Negosiasi

  1. asslm,,
    thanks y,,,,,,,
    blog ini dapat membantu saya dalam mengerjakan tugas teknik negosiasi dan lobi
    klo bsa, saya jga ingin kasus” yang lain bwt bhan pertimbangan dalam setiap kasusnya

    wass,,,

  2. Assalamu’alaikum.. trimakasih dari Blog ini saya dpt mudah mengetahui tentang kasus negosiasi dengan mudah.

  3. kok tdk ada penjelasan jwbnnya kak ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s