THE POWER OF PERFORMANCE MEASUREMENT

What gets measure gets down

Pada krisis tahun 70an, lembaga independen mengembangkan metode pengukuran kebersihan jalan dengan scorecard. Sementara departemen sanitasi senantiasa berfokus pada input yaitu berapa jumlah truk untuk setiap distrik, berapa jumlah orang yang diperlukan untuk setiap truk. Saat ini informasi tersebut dialihkan untuk mengacu pada scorecard yang telah ditentukan. Pada tahun1986, persentase tingkat jalan yang kotor menurun dari 43% menjadi 4%. Hampir 75% pengukuran outcome untuk perawatan taman, pelatihan kerja dan penempatan, layanan perawatan rumah, pemeliharaan sekolah, dan program lain. Dalam institusi yang lebih besar, public dan privat semua hal dapat dieprhitungkan dengan matang untuk mendapatkan formula yang tepat.

IF YOU DON’T MEASURE RESULT YOU CANT TELL SUCCESS FROM FAILURE

Mayoritas legislator tidak memiliki prediksi mengenai program yang akan didanainya akan sukses atau gagal. Kekurangan informasi yang objektif tentang outcome membuat legislator lebih mempertimbangkan aspek politis. Ketika seorang politisi memutuskan untuk meningkatkan kekuasaannya untuk area tertentu, mereka belum tentu mengetahui sumber keuangannya. Seperti dilaporkan dalam walstreet journal tahun 1989, dimana pengeluaran yang berlebihan pada penanganan narkoba illegal telah memboroskan keuangan Negara sebesar 5.72 Miliyar dollar sementara hasilnya tidak tepat sasaran.

IF YOU CANT SEE SUCCESS, YOU CANT REWARD IT

Dengan memberikan reward pada manajer, Sunnyvale telah berhasil meningkatkan produktivitasnya hingga 4% setahun. Memberikan reward biasa dilakukan pemerintah atas tercapainya kinerja yang direncanakan. Contohnya, ketika Federal Nation Mortgage Association memberikan reward pada mentor untuk setiap murid dengan nilai A dan B, hal tersebut telah meningkatkan jumlah murid dengan nilai A dan B dari 30 murid menjadi 130 murid. Ketika Housing Authority of Louisville menjual program pengembangan pertanian, penduduk memelihara program tersebut sehingga tetap menjadi lebih baik dari pada kondominium.

IF YOU CANT REWARD SUCCES YOU’RE PROBABLY REWARDING FAILURE

Memberikan reward atas kesuksesan mungkin merupakan hal yang biasa, tetapi belum menjadikannya kebiasaaan yang dilaksanakan. Kita biasa melakukan pertolongan atas kegagalan, “jika gagal, maka kita dapat memberikan pertolongan”, “ jika kamu melakukannya dengan baik, maka bantuan akan hilang”. (east harleem sy fliegel). Di bidang keamanan, kita juga memberikan reward atas kegagalan, misalnya ketika kriminalitas meningkat maka anggaran untuk kepolisian akan ditingkatkan.

Memberikan reward atas kegagalan merupakan hal yang aneh. Reward atas kegagalan menyebabkan sekolah dasar akan tetap berada dalam status quo, membuat kepolisian tidak  berusaha menurunkan tingkat kriminal agar tetap mendapatkan anggaran lebih. Hal ini juga terjadi pada tunjangan kesejahteraan penduduk, dimana jika seorang mampu membeli mobil maka ia tidak lagi mendapatkan tunjangan sosial, jika seorang mendapatkan pekerjaan maka ia akan kehilangan tunjangan kesehatan, dan lainnya.

Pemerintah mulai membangun permintaan atas kinerja pada program kesejahteraan  masyarakat. The Federal Family Support Act of 1988 memerlukan beberapa penerima dana kesejahteraan berpartisipasi pada pendidikan, pelatihan, dan pekerjaan. Minnesota Learnfare meminta ibu dengan anak di bawah dua puluh tahun untuk menyekolahkan anaknya. Wisconsin Lernfare memberikan denda pada penduduk jika anaknya meninggalkan sekolah lebih dari tiga hari tanpa ijin.

IF YOU CANT SEE SUCCESS, YOU CANT LEARN FROM IT

Entrepreneurial Public Organization adalah organisasi peneliti yang selalu mencoba hal baru dengan mempraktikkannya. Tapi, jika sebuah organisasi tidak mengukur hasil dan tidak dapat mengidentifikasi kesuksesan akan datang, maka dapat dikatakan organisasi tersebut belajar untuk sukses tanpa umpan balik pada outcome dan inovasi. Ketika kesuksesan tidak dapat diprediksikan maka tidak ada hal yang dapat dipelajari.

Dalam tahun 70an Ford Foundation membangun Manpower Demonstration Research Corporation untuk menguji konsep dari Swedia yang disebut ‘supported work’. ide ini diawali untuk mengumpulkan pelajar yang gagal dalam studinya akibat kecanduan narkoba, drop out, dan penerima tunjangan sosial dalam jangka panjang (penduduk tidak mampu). Kursus dilaksanakan sambil bekerja, selama kursus peserta mendapatkan pelatihan, konsultasi dan layanan lain hingga benar-benar mendapatkan pekerjaan pada akhir tahun.

Sumber: Reinventing Government, David Osborn, Chapter 5, page 146-152

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s