Kereta Api

Photobucket

Mengecewakan itulah kata yang paling tepat untuk pelayanan PT KAI terhadap konsumennya. Dari hari ke hari pelayanannya tidak bertambah baik tetapi malah semakin memburuk. Sebagai contoh dari berbagai pelayanan yang mengecewakan tersebut adalah dulu untuk KA sekelas Eksekutif para pengasong tidak dapat naik ke gerbong penumpang untuk menawarkan dagangannya.

Tetapi saya terkejut ketika naik KA Eksekutif Gajayana dan berhenti di Stasiun Purwokerto para pengasong semua naik ke gerbong penumpang. Tentunya hal tersebut sangat mengganggu istirahat penumpang, dikarenakan mereka mau membayar tiket lebih mahal dibanding dengan tiket KA kelas Bisnis bertujuan untuk mencari kenyamanan dan beristirahat.

Sayangnya sekarang kenyamanan di KA Eksekutif sudah tidak dapat dinikmati oleh konsumennya, PT KAI (dalam hal ini Kepala Stasiun Purwokerto dan Stasiun Cirebon) kelihatannya tidak memperdulikan masalah ini. Terbukti sampai sekarang para pengasong tersebut masih berlenggang kangkung di gerbong KA Eksekutif.

Itu adalah salah satu cerita dari konsumen yang ditulis di sini.

Saya memiliki cerita senada yang kurang lebih intinya sama, mengeluhkan pelayanan PT KAI (baca: Keretapi = Kereta Api, bukan Kere Tapi).

Saat kemarin, 30 April 2009, menggunakan KA Senja Utama dari Jakarta menuju Semarang, saya mengusahakan untuk membeli tiket 2 jam sebelum keberangkatan, dengan harapan agar dapat tempat duduk. Alhamdulillah saya dapat tiket tempat duduk. Saat kereta berangkat dan berhenti di Stasiun Jatinegara, mulai tampak banyak penumpang yang menggelar koran di sepanjang lorong gerbong kereta. Awalnya saya berpikir, kasihan sekali mereka dan betapa ‘nrimo’ nya mereka, dengan membayar harga yang sama, yaitu Rp 100.000, mereka tidak mendapatkan tempat duduk, bahkan harus rela dilangkahi oleh orang yang mau lewat.

Namun ternyata itu anggapan orang awam nan lugu seperti saya ( :0 ), saat kereta sudah melewati stasiun Bekasi, dan tidak ada lagi penumpang yang naik, ada seseorang dengan pakaian biasa: celana jeans dan kaos oblong, memegang uang segepok sambil memungut uang dari para penumpang yang duduk di sepanjang lorong gerbong kereta tersebut. Spontan saya tanya kepada penumpang yang membayarkan uang pada orang tersebut. “Mas, tadi uang untuk apa?”. “untuk tiket, mas” jawabnya. “Emang tadi di bawah ga beli tiket ya?”, “Nggak” katanya. “Terus tadi bayar berapa?”, “Rp 10.000”. Sontak saya kaget.

Mereka hanya bayar Rp 10.000 sudah bisa naik kereta Bisnis, bisa tidur selonjor pula. Bayangkan, harga tiket ekonomi saja Rp 36.000. Saya hanya tersenyum miris mengingat kejadian itu. Sungguh luar binasa pelayanan PT KAI ini. Mengapa PT KAI yang menjadi sasaran kesalahan? Karena menurut saya, PT KAI sudah seharusnya menjaga kenyamanan mereka yang membayar Rp 100.000 dengan tidak memasukkan orang-orang yang hanya membayar seperseluhnya. Hal ini tentu saja bisa dilakukan, lha wong di kereta eksekutif saja bisa, masa’ di bisnis ga bisa.

Mungkin ini adalah efek dari lagu kereta api tempo dulu, “Bolehlah naik dengan percuma…”.

Meskipun ada beberapa hal perbaikan dari sisi pemesanan tiket kereta. Akan saya bahas di post berikutnya.

2 thoughts on “Kereta Api

  1. PT Kereta Api (Persero), Kak Dino. Bukan PT KAI (PT Kereta Api Indonesia?). ^_^

    Saya jarang memakai angkutan kereta api jarak jauh. Saya hanya sekali saja pulang kampung naik kereta api ekonomi. Kemudian dua kali naik kelas eksekutif waktu dinas luar ke Semarang. Waktu naik kelas eksekutif itu nyaman-nyaman saja, nggak ada pedagang asongan yang masuk.

    Kalau naik kereta Jabodetabek hampir tiap hari kerja. Kalau untuk kelas ekonomi AC dan ekspres AC sih memang tidak ada pedagang asongan (kalau dari Tanah Abang ke Serpong, tapi kalau dari Bogor ke Tanah Abang masih ada). Yang paling menyebalkan dari kereta jalur Serpong-Tanah Abang dan sebaliknya adalah kalau kereta harus tunggu masuk atau tunggu aman (menunggu kereta yang di depannya melintas di stasiun berikutnya atau menunggu jalur aman/tersedia untuk masuk ke stasiun). Menunggunya bisa lama sekali, apalagi di depannya itu ada odong-odong (sebutan untuk kereta ekonomi diesel). Kalau keterambatan jadwal sih kadang menguntungkan, hehehehe.

  2. Oh iya ding, PT Kereta Api ya? syukran sudah mengoreksi, kak Rahmat.
    Secara umum, memang ada kelebihan dan kekurangan dari kereta api ini. Saya melihat, kelebihannya adalah di mejadi moda transportasi massal yang sangat efektif megurangi kemacetan, namun di satu sisi, peran besar yang diemabnnya ini tidak menjadikan PT Kereta Api untuk memperhatikan pelayanan yang diberikannya kepada masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s