Hijrah ke Bumi Habasyah

umarPada pelajaran qiro’ah (reading) kemarin, kami membaca tentang Hijrah ke Bumi Habasyah (sekarang Ethiopia)yang terjadi pada zaman Rasulullah saw. Kurang lebih beginilah terjemahannya:

Rasulullah saw menyeru manusia di Makkah kepada keimanan kepada Allah swt, dan menyeru untuk meninggalkan peribadatan kepada berhala, sangat sedikit orang-orang Makkah yang beriman, yang lainnya tidak mau beriman, dan bahkan mereka menyiksa sebagian sahabat dengan siksaan yang keras.

Siksaan itu berupa dijemur di padang pasir dengan suhu kira-kira 50oC dan ditindihkan shokhr (batu hitam besar seperti di pinggir pantai yang menantang ombak); yaitu ditimpakan pada Bilal r.a. Kemudian pada keluarga Yasir, dipakaikan baju besi dan dijemur di terik matahari di tengah padang pasir, yang tentunya melepuh semua kulitnya; Rasulullah saw mengatakan “Sabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya untukmu dan keluargamu adalah JannahNya”. Berbagai penyiksaan ditimpakan kepada kaum mu’minin, namun mereka tetap teguh dalam keimanan mereka.

Seperti itulah tabiat jalan dakwah. Selalu ada ujian. Ujian siksaan maupun ujian kesejahteraan. Apapun ujiannya, kita harus tsabat atau teguh dalam menapaki jalan dakwah ini. Bisa jadi, suatu saat nanti, di Indonesia, para kader dakwah, aktivis dakwah, menemukan ujian siksaan yang sangat mengerikan, seperti yang dulu pernah dialami oleh kader dakwah di Mesir, atau sekarang yang dialami bangsa Palestina. Digantung dengan posisi kepala di bawah, kemudian dicambuk. Dipenjara dalam ruang gelap tanpa pakaian, becek, diperdengarkan lagu rock yang sangat keras. Sungguh siksaan yang sangat menyakitkan. Bukan tidak mungkin. Karena Allah akan menguji hamba-Nya yang beriman. Itu adalah sunnatullah. Maka yang perlu kita lakukan adalah, meminta pertolongan kepada Allah, agar diberikan keteguhan iman dan kesabaran dalam menjalani ujian-ujian tersebut.

Rasulullah saw berkata kepada para sahabat: “Pergilah kalian ke Bumi habasyah, sesungguhnya di sana ada Raja yang tidak mendzalimi seorangpun, hingga Allah membuat jalan keluar untuk kalian dari kesusahan ini.”
Karena siksaan yang diderita para sahabat semakin berat, maka Nabi pun memerintahkan mereka hijrah. “Kalau kalian hijrah ke Habasyah, tentulah siksaan ini terhindar. Di sana ada penguasa yang mau melindungi (memberi suaka). Lakukanlah langkah ini, hingga Allah memberi kela¬pangan dan jalan keluar dari keadaan yang ada sekarang.”

Terjadilah hijrah yang pertama dengan dua belas orang pria dan empat orang wanita. Setelah mende¬ngar masuk Islamnya Umar bin Khattab, mereka yang hijrah ke Habasyah kembali ke Makkah bersama-sama dengan orang-¬orang yang sempat di Islamkan selama mengungsi itu. Taktik hijrah ke Habasyah ini agaknya berhasil baik dengan rombongan yang terdiri dari delapan puluh tiga orang pria dan sebelas orang wanita. (http://www.dakwatuna.com)

Raja tersebut adalah Raja Najasy, yang beragama Nasrani, namun tidak berbuat dzalim kepada orang-orang yang beragama selain Nasrani. Berbeda dengan Yahudi, yang memang memiliki doktrin bahwa manusia selain Yahudi adalah pelayan bagi Yahudi, dianggap monyet dan babi. Mengapa dipilih Bumi Habsasyah? Karena Habasyah memiliki Raja yang tidak dzalim, kemudian juga karena pilihan tempat ini adalah pilihan Rasulullah dengan pertimbangan yang sangat matang dan strategis. Kalau saat itu Rasulullah memilih Romawi, di sana orang-orangnya tidak mudah untuk “diwarnai”, justru mereka sangat dominan dan ”mewarnai”, mereka beragama bukan agama samawi. Kalau Yaman, banyak orang Yahudi di dalamnya, yang kita sudah ketahui bersama bagaimana bejatnya orang Yahudi. Maka saat itu Rasulullah memutuskan untuk hijrah ke Bumi Habasyah.

Kemudian berhijrahlan sebagian sahabat Rasulullah saw dari Makkah ke Bumi Habasyah, dan ini adalah hijrah pertama dalam Islam. Berhijrahlah Utsman bin ‘Affan dan istrinya Ruqoyyah binti Rasulullah, dan juga berhijrah Abu Salamah dan istrinya Ummu Salamah, juga turut berhijrah laki-laki dan perempuan yang lainnya serta anak-anak kecil.

Mengapa Utsman r.a. dan Abu Salamah r.a. diutus untuk ikut hijrah ke Habasyah? Karena mereka adalah sahabat-sahabat pilihan. Seperti kita ketahui bersama bahwa Rasulullah membedakan posisi sebagian sahabat di antara sahabat yang lain, artinya ada yang lebih dekat dengan beliau. Utsman disebut sebagai “dzu nurrotain” yang memiliki 2 cahaya, karena menikahi 2 orang putri rasulullah, yaitu Ruqoyyah r.a. dan Ummu Kultsum r.a. Abu Salamah adalah orang yang luar biasa. Ummu Salamah pernah berkata, “Saya tidak akan menerima pinangan seseorang selepas kematian Abu Salamah, kecuali dia adalah orang yang lebih baik daripada Abu Salamah.” Dan ternyata yang menikahnya adalah Rasulullah saw. Betapa terpilihnya orang-orang yang pergi ke Habasyah.

Itu adalah terjemahan dari buku qiro’ah kami dan sebagian penjelasan dari ustadz Eko, seorang lulusan LIPIA, yang masih muda dan cerdas.

About these ads

4 thoughts on “Hijrah ke Bumi Habasyah

  1. alhamdulilllah… insya Allah tulisan ini masuk ke hati..
    Ya Allah… teguhkanlah aku di jalan dakwah ini..

  2. nm orang yg ikut siapa sj?

  3. Syukron katsir ya, nambah info buat bikin soal IPS Terpadu nii…

  4. saya mau tanya apakah hijrah ke habasyah itu sebagai pendahuluan sebelum hijrah ke madinah ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s