Kronologis Kasus Pegawai KPPN Jakarta II

Postingan ini adalah copy paste yang bersumber dari Milis Alumni STAN. Sebuah kasus yang diputuskan dengan putusan yang konyol dan terlihat sekilas sebagai sebuah putusan sarat KKN. Berikut cuplikannya:

 “Semua pegawai KPPN, khususnya front office (FO) dan seksi-seksi tertentu akan mengundurkan diri daripada tertimpa musibah dalam bentuk menanggung dosa yang tidak pernah mereka lakukan.”(Pembelaan EIS, terdakwa kasus pemalsuan SPM yang merugikan keuangan negara).

Terus terang, ada rasa sanksi atas penegakan hukum yang masih jauh dari rasa keadilan di negeri ini. Dan kemarin sore (9 Januari 2011), kembali terdengar kabar tidak sedap karena dua orang pegawai negeri sipil (PNS) lingkup kementerian keuangan divonis bersalah oleh majelis hakim pengadilan Tindak Pidana Korupsi (TIPIKOR). Terpidana EIS selaku penandatangan SP2D divonis bersalah 1,5 tahun dan denda Rp100 juta atau subsidaire 3 bulan kurungan, sedangkan ES selaku petugas  FO  divonis 1 tahun dan denda Rp100 juta atau subsidaire 3 bulan kurungan. Continue reading

Pekerjaan Tetap vs Tetap Bekerja

Akhir-akhir ini sering muncul dalam benak saya untuk berpindah pekerjaan dari PNS menjadi wirausaha. Di tengah munculnya pikiran-pikiran tersebut, saya membaca artikel dari Muhaimin Iqbal, pemilik Geraidinar (tempat di mana http://dinaremasku.com menjadi agennya). Berikut kopian artikelnya.

Di masjid komplek tempat saya tinggal, jamaah shalat dhuhurnya kini hampir sama banyaknya dengan shalat fardhu lainnya. Kok bisa ?, bukankah penghuninya pada ke kantor di siang hari ? sebagiannya memang demikian, tetapi cukup banyak yang mulai bekerja di rumah.  Yang pada bekerja di rumah ini sebagian memiliki pegawai beberapa orang, maka mereka inilah yang ikut meramaikan masjid di siang hari selain penghuni komplek sendiri. Awalnya orang yang melihat kami siang-siang pada sarungan ke masjid, sering bertanya ‘apakah Anda tidak bekerja ?’, maka sambil berseloroh kami punya jawaban yang khas untuk ini : ‘kami ini adalah orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap, tetapi kami tetap bekerja !’.

Inilah paradigma baru yang rupanya menular di komplek kami tinggal. Belasan tahun lalu ketika saya mulai masuk komplek ini, saat itu hampir semua orang bekerja di kantor sehingga masjid sepi ketika siang hari. Kini hampir berimbang antara yang bekerja di kantor dan yang di rumah. Sebagian karena usia pensiun, sebagian karena memutuskan untuk berwirausaha sebelum usia pensiun tiba, sebagian lain memang dengan bantuan teknologi kini bisa bekerja dari rumah.

Ada budaya baru yang menarik yaitu orang-orang sarungan atau pakai baju gamis ke masjid siang hari – padahal mereka orang-orang yang sibuk. Kok bisa ?, kapan mereka berganti sarung atu gamisnya ? mereka tidak perlu berganti !, karena ketika mereka bekerja di rumah, tidak lagi diperlukan pakaian formal – sarungan atau bergamis-pun jadi. Continue reading

KRL oh KRL

Dalam sebulan, selalu KRL menyisakan kekecewaan untuk kami para penggunanya, paling tidak sekali atau 2 kali. Keterlambatan dan keterlambatan tidak pernah absen dari moda transportasi massa sejuta umat ini. Pagi ini KRL rute Serpong kembali menorehkan luka kekecewaan di hati para pelanggan setianya. Para pelanggan yang entah sampai kapan bisa terus bersabar dan membisu ketika didzolimi.

Kapan pihak PT KAI Commuter Jabodetabek akan berbenah dan memberikan pelayanan sepenuh hati kepada pelanggan setianya? Meski berbagai keluhan dan kekecewaan dilayangkan kepada mereka, mereka tetap bergeming. Ya, mungkin mereka berusaha melakukan sesuatu untuk perbaikan. Tetapi hasilnya belum atau tidak dirasakan oleh pengguna.

Pagi ini saya membaca surat kabar, ada terobosan baru di Indonesia dalam pelayanan jalan tol elektronik. Para pengguna jalan tol tidak perlu berhenti untuk membayar layanan jalan tol (non-stop transaction), hanya menggunakan semacam alat detektor bernama On Board Unit (OBU) buatan Austria. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kepuasan para pengguna jalan tol dari sisi waktu dan kepraktisan. Oke, kita sudah lihat usaha PT Jasa Marga dalam memperbaiki layanannya. Giliran PT KAI Commuter Jabodetabek menunjukkan kepada masyarakat, upaya apa yang dilakukannya untuk memperbaiki layanan kepada pelanggannya.

Carilah Alasan untuk Membeli Barang Dari Pedagang yang Membutuhkan Bantuan

Bapak Tua Penjual Amplop Itu

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat. Continue reading

Karyawan dan KRL Commuter Line

Bagi sebagian pekerja ibukota Jakarta, moda transportasi kereta listrik atau KRL merupakan pilihan utama untuk menghindari kemacetan. Transportasi yang memiliki jalur sendiri, terjadwal, tarif yang terjangkau, dan tentunya bebas macet. Benar-benar idaman para pekerja ibukota. Namun sebagai transportasi idola para karyawan, KRL tidak membalas kecintaan para pekerja ini dengan fasilitas yang oke punya. Kondisi gerbong yang renta, AC tidak lagi menghembuskan hawa sejuk melainkan memutar udara panas dalam gerbong, penuh sesak para pengguna pada jam-jam berangkat dan pulang kerja, serta jadwal yang terkadang tidak ontime.

Banyak pilihan jadwal KRL yang dapat kita manfaatkan untuk mengantarkan ke tempat bekerja. Namun terkadang jadwal pilihan kita itu adalah jadwal dengan tanpa memberikan jeda toleransi jika terjadi gangguan pada KRL. Misal gangguan pada gardu listrik, KRL yang datang tidak tepat waktu (dhi yg saya katakan tidak tepat waktu adalah lebih dari 10 menit). Hal-hal semacam ini yang kadang tidak diperhitungkan oleh para pekerja sehingga ketika gangguan terjadi maka terlambatlah dia tiba di tempat bekerja. Continue reading

Keep it Simple, Stupid

Berawal dari melihat kaos temen yang bertuliskan Keep it Simple, Stupid…kemudian saya baca, saya senyum-senyum sendiri. Iya juga sih, ngapain rumit-rumit. Hari ini nemu lagi tulisan itu di blognya temen, makin curiga deh ama ni quotes. Taunya ni udah lama ya quote kayak gini. Gugling-gugling, smakin angguk-angguk aja dengan contoh dari penerapan quotes ini. Display Picture di My GoldBerry pun saya pasang gambar quotes itu dan begitu juga statusnya. Langsung banyak yang bbm nanyain apa itu, dan ijin copas DP nya. Ternyata bukan saya aja yang baru tau, hehe…

Ini beberapa contoh dari Keep it Simple, Stupid. Saya ambil dari blog Pak Kusdiyono. Continue reading

Hikayat 3 Pohon Kayu

Seorang petani menanam tiga bibit pohon kayu di halaman rumahnya, disiraminya setiap hari, dipupuknya dan dirawatnya dengan baik seraya berharap akan tingginya nilai pohon kayu ini nantinya. Seperti ‘tiga anak’ petani yang tumbuh dewasa bareng, ketiga pohon ini-pun selalu berbagi suka dan duka. Suatu hari salah satu dari pohon ini mengajak dua ‘saudara’-nya untuk berbagi cita-cita.

Pohon yang pertama memulai, dia ingin kelak menjadi kayu yang berserat indah sehingga menarik siapapun yang melihatnya. Dia ingin diukir menjadi kotak perhiasan para raja dan ratu karena keindahannya.  Pohon kedua bercita-cita ingin menjadi kayu yang sangat kuat, sehingga para pembuat kapal akan mengambilnya untuk menjadi bahan kapal samudra yang menjelajah dunia.

Giliran pohon ketiga berbagi, dia ingin tetap hidup sampai menjadi pohon kayu yang sangat besar dan kuat, dengan daun-daun yang menjulang sehingga bisa mendekati para makluk langit.

Ketika mereka baru mencapai separuh usia, si petani membutuhkan halaman rumahnya untuk keperluan lain. Di potong-lah ketiga pohon ini ketika pohon pertama belum berhasil membentuk serat yang indah, pohon kedua belum menjadi kayu yang kuat dan pohon ketiga belum sempat memiliki daun yang menjulang ke langit. Continue reading

Cerita tentang Qurban

Copy paste utk pengingat menjelang Idul Adha

QURBAN BU SUMI

setelah melayani pembeli, saya melihat seorang ibu sdg memperhatikan dagangan kami, Dilihat dari penampilannya sepertinya gak akan beli.Namun saya coba hampiri dan menawarkan. “Silahkan bu. ibu itu menunjuk, “Kalau yg itu berapa bang?” Ibu itu menunjuk hewan yg paling murah.

Kalau yg itu harganya 600rb bu, jawab saya. Harga pasnya berapa?, 500rb deh. harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah.. “Uang saya Cuma ada 450rb, boleh gak”. Waduh..saya bingung, karena itu harga modal kami, akhirnya saya berembug. “Biarlah..”

Sayapun mengantar hewan ibu, Ketika sampai di rumah ibu tersebut. Astaghfirullaah.. Allahu Akbar, terasa mengigil seluruh badan demi melihat keadaan rumah ibu tersebut.

Ibu itu hanya tinggal bertiga dgn ibu dan satu orang anaknya di rumah gubuk berlantai tanah. Saya tidak melihat tempat tidur/ kasur, yang ada hanya dipan kayu beralas tikar lusuh.

Diatas dipan sdg tertidur seorang nenek tua kurus. “Mak..bangun mak, nih liat Sumi bawa apa”, perempuan tua itu terbangun. “ Mak Sumi udah beliin kambing buat emak qurban, ntar kita bawa ke Masjid ya mak.

Orang tua itu kaget namun bahagia, sambil mengelus-elus kambing orang tua itu berucap, Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga emak qurban.

“Nih bang duitnya, maaf ya kalau saya nawarnya ke murahan, saya hanya kuli cuci, saya sengaja kumpulkan uang untuk beli kambing yg mau saya niatkan buat qurban ibu saya.

duh GUSTI…Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hambaMU yg satu ini. HambaMU yg Miskin Harta tapi dia kaya Iman. Seperti bergetar bumi ini setelah mendengar niat dari ibu ini.

“Bang nih ongkos bajajnya.!, panggil si Ibu, “sudah bu, biar ongkos bajaj saya yg bayar. Saya cepat pergi sblm ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah krn tak sanggup mendapat teguran dari Allah yg sudah mempertemukan dgn hambaNYA yg dgn kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.

Rencana Mudik 1432 H

Kembali melihat arsip tulisan saya di blog ini tahun 2009 dan 2010, setiap kejadian yang sedikit menarik perhatian, saya share di blog ini. Ternyata saya menuliskan cerita mudik tahun 1429 H dan 1430 H di blog ini. Namun terlewat untuk mudik 1431 H. Mungkin karena kesibukan berkantor yang berbeda saat 1429 dan 1430 yang masih berkuliah. Ah, tidak, itu mungkin hanya alasan saja yang malas menulis. Nah, untuk menepis alasan tersebut, saya mau menuliskan cerita tentang rencana mudik di tahun 1432 H ini.

Berawal dari informasi dari seorang teman, bahwa tiket kereta api bisa dibeli 40 hari sebelum hari keberangkatan atau H-40. Jadilah saya pada waktu itu ‘berburu’ tiket. Tidak seperti 2 tahun sebelumnya, yang saya harus antri sendiri di agen tiket. Tahun ini saya meminta tolong kepada teman yang seorang agen tiket online. Saya benar-benar mempercayakan kepada dia untuk mendapatkan tiket bagi kami berdua (saya dan istri). Tidak melakukan usaha lain untuk mencari alternatif memperoleh tiket mudik untuk tanggal 26 Agustus 2011. Alhasil, malam harinya diberi kabar bahwa dia tidak dapat tiket untuk kami. Bahkan dirinya juga tidak dapat. Saya menyesal, kenapa tidak melakukan upaya lain, semisal ikut kembali mengantri seperti tahun-tahun sebelumnya, atau meminta bantuan kepada orang di kampung halaman untuk membelikan tiket. Tho akhirnya pada keesokan harinya saya meminta bantuan kepada bapak dan ibu di rumah untuk membelikan tiket. Maaf ya Pa Ma sudah merepotkan..namanya anak yah, udah dewasa pun masih merepotkan orangtuanya. Astaghfirulloh.

Alhamdulillah, dapat tiket untuk tanggal 28 Agustus 2011 (besok yah? asyiiikkk mudiikkk), kereta api Argo Sindoro Jakarta – Semarang, dengan harga 510.000/orang. Meski kami membawa 2 anak (oh ya sekarang udah ada adikny Afifah, namanya Qisthi), kami hanya membayar untuk 2 orang, karena anak-anak kami masih di bawah usia 3 tahun. Ini pun uangnya masih utang ma bonyok…hehehe..bener-bener deh ni anak yah…

Hari demi hari berlalu tanpa merasa khawatir bahwa tiket untuk balik ke Jakarta belum juga di tangan. Pasalnya, kami meminta tolong ke keluarga di Ngawi untuk membelikan tiket balik tanggal 4 September 2011, namun tidak dapat. SO, ya sudah, ga usah dipikirin. Padahal ketar-ketir juga kalo bolos kantor, ada orang inspektorat yang sidak. Aneh deh kantor saya, GA NGEBOLEHIN CUTI TAMBAHAN DI LUAR CUTI BERSAMA. Nyebelin yah.. Sampai sekarang pun, masih belum dapat tiket untuk balik ke Jakarta. Rencana sih mau cari tiket pesawat aja dari Adi Sumarmo Solo.

Oke, begitu saja tulisan ini. thanks for reading.

Sekolah untuk apa?

oleh: RHENALD KASALI (Ketua Program MM UI)

Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak mencari sekolah. Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata banyak yang ”salah kamar”. Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja.

Bagaimana kalau uang tak ada? Continue reading